Berita Rosululloh

Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para shohabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Golongan yang berada di atas petunjuk yang dipegang aku dan para shohabatku.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok dari Abdullah bin Amr. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Takhrij Al-Kasyaf hal. 64: “Sanadnya hasan.”).

Wasiat Rosululloh

Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Aku tinggalkan di antara kalian dua hal, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabulloh dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga mendatangiku di Al-Haudh (telaga Rosululloh di hari kiamat nanti).”

Hadits Shohih, HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok dari Abu Huroiroh, dibawakan dalam Jamiush-Shoghir karya Al-Imam As-Suyuthi)

Madzhab Imam Asy-Syafii

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

“Jika hadits itu shohih, maka itulah madzhabku (pendapatku).”

(Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (1/63) karya Al-Imam An-Nawawi)

Jangan Akuan semata ...

Tidaklah semua orang yang mengaku bermadzhab syafii itu benar mengikuti madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Dan tak berguna akuan yang tidak diiringi dengan kenyataan. Sebagaimana kata seorang penyair:

“Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak membenarkannya.”

Apa Ciri Ahlussunnah?

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (Ar-Rum: 30-32) berkata: “Umat Islam ini berselisih di antara mereka menjadi berbagai aliran, semuanya sesat kecuali satu, yaitu ahlussunnah wal jamaah, yang memegang teguh Kitabullah dan Sunnah Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, dan memegang petunjuk generasi pertama: para shohabat, para tabiin, serta para imam kaum muslimin pada masa dulu atau belakangan.”

Tampilkan postingan dengan label Madzhab Syafii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madzhab Syafii. Tampilkan semua postingan

Setelah kita menyebutkan perkataan Imam Asy-Syafii dan Imam Waki’ (salah seorang guru Imam Asy-Syafii), kita akan menyebutkan beberapa perkataan ulama yang lain tentang Sufiyah [Shufiyyah] atau tasawuf [tashawwuf, tashowwuf].

1. Imam Malik (guru Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh-

Al-Qodhi ‘Iyadh rohimahulloh berkata dalam kitabnya Tartib Al-Madarik Wa Taqrib Al-Masalik 2/54: At-Tinisi berkata: Kami dulu berada di sisi Malik, dan para muridnya berada di sekelilingnya. Kemudian seorang dari penduduk Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kaum yang disebut dengan sufiyah, dimana mereka makan banyak, kemudian mereka mulai membaca qasidah-qasidah [qashidah, qoshidah], kemudian bangkit dan menari.” Maka Imam Malik berkata: “Apakah mereka anak-anak?” Dia menjawab: “Tidak.” Imam Malik bertanya: “Apakah mereka orang-orang gila?” Dia menjawab: “Bahkan mereka adalah para tokoh agama yang berakal!” Maka Imam Malik berkata: “Aku tidak mendengar bahwa seorang muslim akan melakukan demikian.”

2. Imam Ahmad bin Hambal (murid Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh-
Beliau memperingatkan dari berteman dan duduk-duduk dengan mereka. Beliau pernah ditanya tentang nasyid-nasyid dan qasidah-qasidah –yang disebut sima’- yang dilakukan Sufiyah. Maka beliau mengatakan: “Itu perkara yang diada-adakan dalam agama (tidak ada landasannya dalam agama Islam).” Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Apakah boleh kami duduk-duduk dengan mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.”
Dan Imam Ahmad juga berkata tentang Al-Harits Al-Muhasibi –seorang imam tasawuf-. Maka beliau berkata kepada murid-muridnya: “Aku tidak mendengar tentang hakekat-hakekat seperti perkataan orang ini. Dan aku tidak berpadangan engkau boleh duduk-duduk dengannya.” (Tahdzibut Tahdzib 1/327)

3. Abu Zur’ah Ar-Rozi -rohimahulloh-
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam At-Tahdzib: Al-Bardza’i berkata: Abu Zur’ah ditanya tentang Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya, maka dia menjawab: “Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, (yang berisi) bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Dan wajib kamu berpegang teguh dengan al-atsar (hadits, sunnah, petunjuk Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam), sesungguhnya engkau akan mendapati dalam atsar yang mencukupimu dari kitab-kitab ini.”
Kemudian ada yang bertanya kepadanya: “Di dalam kitab-kitab ini ada pelajaran?”
Dia menjawab: “Baangsiapa yang tidak mendapat pelajaran dalam Kitabulloh, maka dia tidak akan mendapat pelajaran dalam buku-buku ini. Apakah telah ada kabar sampai kepada kalian bahwa Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, atau Al-Auza’i atau para imam lainnya menulis kitab-kitan tentang lintasan-lintasan hati dan was-was (bisikan-bisikannya) serta perkara-perkara ini? Kaum sufiyah ini telah menyelisihi para ulama. Kadang mereka membawa Al-Muhasibi kepada kita, kadang membawa Abdurrohim Ad-Daili, dan kadang membawa Hatim Al-Ashom... Betapa cepatnya manusia berlari menuju para ahli bid’ah ini.”

Orang-orang sufi itu berpaling dari syariat Islam, karena mereka bodoh tentang syariat dan suka mengada-adakan perkara agama dengan pendapat ro’yu (akal) mereka. Mereka senang dengan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) dalam beragama dan beribadah.

Begitulah kebanyakan orang yang mengaku bermadzhab syafii, tidak mengambil pendapat/perkataan Imam Asy-Syafii kecuali yang mencocoki hawa nafsu mereka dalam masalah fiqih dan ibadah. Sedangkan dalam masalah aqidah dan manhaj tidak menempuh jalan yang ditempuh beliau. Padahal masalah aqidah dan tauhid itulah dasar agama.

Selasa, 29 September 2009

Imam Syafii telah mencela sufiyah (shufiyyah) karena kesesatan mereka. Beliau telah menyebutkan ciri-ciri mereka untuk memperingatkan agar tidak tertipu dengan mereka dan masuk ke dalam bid’ah sufiyah.
Hal ini nampak sangat jelas dalam teks-teks ucapan beliau tentang firqoh (golongan, sekte) ini.
Di antara ucapan beliau:

1. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Yunus bin Abdil A’la, dia berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata: “Kalau seorang menganut ajaran tasawuf (tashawwuf) pada awal siang hari, tidak datang waktu zhuhur kepadanya melainkan engkau mendapatkan dia menjadi dungu.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)

Dungu adalah sedikitnya akal. Dan itu adalah penyakit yang berbahaya.
Tidaklah aneh ahli tasawwuf dalam waktu kurang dari sehari akan menjadi orang yang dungu. Tulisan-tulisan mereka sendiri menjadi saksi tentang hal itu.

An-Nabhani -seorang sufi- dalam kitabnya yang penuh dengan khurofat, kezindiqan, dan kesesatan; yang berjudul Jami’ Karomat Auliya tentang biografi Ahmad bin Idris, dia berkata:

[Di antara karomahnya yang agung yang tidak bakal dicapai kecuali oleh orang-orang tertentu adalah berkumpulnya dia dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan bangun (terjaga), kemudian dia mengambil wirid-wiridnya, hizb-hizbnya dan sholawatnya yang masyhur dari beliau secara langsung ......
Dia (Ahmad bin Idris) diuji dengan hilangnya indera dengan benda-benda yang ada. Kemudian dia mengeluhkan kepada sebagian guru-gurunya. Kemudian sang guru berkata: ‘Kaana (Jadilah dia).’ Ahmad bin Idris menceritakan dirinya: Maka dengan semata ucapan sang guru “kaana”, hilang dariku semua rasa sakit, kemudian aku bangkit waktu itu juga dan jadilah aku seperti orang yang tidak ditimpa sesuatupun. Aku memuji Allah. Dan aku mengetahui bahwa telah pasti apa yang dikatakan para tokoh sufi: Awal jalan adalah junun (kegilaan), pertengahannya funun, dan akhirnya ‘kun fa yakun’.”]

Perkataan ini tidak pernah diucapkan oleh seorang yang berakal sama sekali. Karena tidak ada yang berhak dengan sifat seperti ini -yaitu mengucapkan kepada sesuatu ‘kun fa yakun’ selain Allah. Allah berfirman tentang Diri-Nya:
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (Kun fa Yakun). (Yasin: 82)
Mereka –ahil tasawwuf- telah mengakui bahwa diri mereka adalah gila.
Sehingga tidak keliru ketika Imam Asy-Syafii mengatakan: “Tidaklah aku melihat seorang sufi yang berakal sama sekali.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)

2. Imam Asy-Syafii rohimahulloh berkata: “Tidaklah ada seorang yang berteman dengan orang-orang sufi selama 40 (empat puluh) hari, kemudian akalnya akan kembali selama-lamanya.”

Dan beliau membacakan syair:
ودع الذين اذا أتوك تنسكوا ... واذا خلوا فهم ذئاب خفاف
Tinggalkan orang-orang yang bila datang kepadamu menampakkan ibadah
Namun jika bersendirian, mereka serigala buas
  (Talbis Iblis hal. 371)
   
3. Imam Asy-Syafii juga berkata: “Dasar landasan tasawwuf adalah kemalasan.” (Al-Hilyah 9/136-137)

Kenyataan sufiyah menjadi saksi apa yang dikatakan Imam Asy-Syafii bahwa dasar landasan mereka adalah malas. Mereka adalah orang yang paling rajin dalam menunaikan bid’ah dan penyelisihan syariat. Dan mereka juga orang yang paling sangat malas dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menghidupkan sunnah-sunnah nabi (tuntunan-tuntunan nabi) shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sebagai tambahan... suatu waktu Imam Waki’ (salah satu guru Imam Asy-Syafii) berkata  kepada Sufyan bin ‘Ashim: “Kenapa engkau meninggalkan hadits Hisyam?” Sufyan bin Ashim menjawab: “Aku berteman dengan satu kaum dari sufiyyah, dan aku merasa kagum dengan mereka, kemudian mereka berkata: ‘Jika kamu tidak menghapus hadits Hisyam, kami akan berpisah denganmu’.” Maka Imam Waki’ berkata: “Sesungguhnya ada kedunguan pada mereka.” (Talbis Iblis hal 371-372)

Insya Allah menyusul perkataan imam ahlussunnah wal jamaah -imam salaf- yang lainnya tentang sufiyyah.
***

Senin, 28 September 2009

Imam Asy-Syafii sebagaimana yang telah lalu adalah pengikut madzhab ahlul hadits. Dan perhatikan perkataan beliau, murid beliau dan ulama lain berikut ini:
1. Dari Imam Syafi’i rohimahulloh. beliau berkata: Wajib atas kalian untuk mengikuti Ahli hadits, karena mereka lebih banyak benarnya dibanding yang lain. (Ibnu Hajar menyebutkannya di dalam Tawali Ta’sis.)

2. Dari Imam Syafi’i rohimahulloh. Beliau berkata: Ahli Hadits ada di setiap jaman, seperti sahabat rodhiyallohu 'anhu pada masa mereka. (Sya’roni menyebutkannya di dalam Al-Mizan Al-Kubro hal. 49.)

3. Dari Za’faroni Abul Ali Al-Hasan (-260 H) dari salah satu murid senior Imam Syafi’i rohimahulloh. Beliau berkata: Tidak ada diatas bumi yang lebih utama dari ahli hadits, mereka mengikuti atsar Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam. (Adz-Dzahabi menukil didalam Siyar 12/264)
4. Dari Al-Hafidz Ibnu Katsir, beliau berkata tentang firman Alloh: “Pada hari kami menyeru manusia bersama imam-imam mereka” (QS. Al-Isro’: 17). Beliau menukil dari salaf: “Ini adalah kemulian terbesar untuk ahli hadits. Karena Imam mereka adalah nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/307)
***

Senin, 14 September 2009

Sesungguhnya para ahli fikih yang ditaqlidi, mereka menolak taqlid. Mereka melarang para muridnya dari taqlid kepada mereka. Yang paling keras dalam hal itu adalah Imam Asy-Syafi’i. Sesungguhnya beliau rohimahulloh sangat tegas dalam permasalahan ittiba’ (mengikuti) atsar (hadits, sunnah) yang sohih dan mengambil kandungan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ketika yang lainnya tidak sampai, dan beliau berlepas tangan dari ditaqlidi secara global, beliau mengatakan yang demikian dengan terang-terangan. Semoga Alloh memberi manfaat yang demikian dan memperbesar pahalanya. Hal itu menjadi sebab kebaikan yang banyak. (Ibnu Hazm berkata dalam Kitab Al-Ihkam 6/118)
Al-Hakim rohimahulloh dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam AsySyafi’i, bahwa beliau berkata kepada Ibrohim Al-Muzani rohimahulloh: “Wahai Ibrohim! Janganlah kamu taqlid kepadaku pada setiap apa yang aku katakan, lihat dalam urusan hal itu untuk diri kamu, karena itu adalah agama. Bukanlah perkataan seseorang itu hujjah kecuali perkataan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam." (Al-Yawakit karya Asy-Sya’roni).
Di dalam Al-Mizan 1/49 karya Asy-Sya’roni rohimahulloh: Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Robi’ (murid beliau): “Wahai Abu Ishak (panggilan Robi’)! Janganlah engkau taqlid kepadaku dalam semua pendapat yang aku katakan! Perhatikan hal itu utuk diri kamu, karena sesungguhnya hal itu adalah agama.”
(Disadur dari Tarikh Ahlul Hadits, Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dahlawi Al-Madany rohimahulloh)

Sabtu, 12 September 2009

Kaum muslimin semua, kita tahu bahwa para imam madzhab yang empat itu lahir setelah jaman para tabiin. Lalu sebelum mereka lahir, kaum muslimin saat itu berada di atas madzhab apa? Madzhab mereka adalah madzhab ahlul hadits, yaitu mengamalkan al-qur’an dan al-hadits (as-sunnah) dengan pemahaman Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam, para shohabat yang mengambil dari beliau, para tabiin dan tabiut-tabi’in. Dan itulah yang dikenal dengan para ulama sebagai madzhab salaf. Kemudian setelah itu bermunculan madzhab-madzhab. Selain itu juga muncul kelompok-kelompok aliran sesat, seperti: Khowarij, Qodariyah, Syiah Rofidhoh, Sufiyah.

Sekali lagi, madzhab-madzhab selain madzhab Ahlul Hadits tersebar belakangan, belum ada pada zaman kenabian, tidak juga pada zaman para sahabat dan tabi’in, ataupun tabiut tabiin. Bahkan belum ada pada zaman imam yang empat sendiri -semoga Alloh merohmati mereka semua-!

Madzhab-madzhab itu sebenarnya muncul dan tersebar dengan sebab pemaksaan qodhi-qodhi, negara, kepemimpinan, kekuatan, dan mayoritas orang pada abad ketiga dan keempat hijriyah. Sebagaimana dijelaskan para ulama dalam tulisan-tulisan mereka.

Penyebaran Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki

Munculnya madzhab-madzhab itu mulai pada zaman Harun Ar-Rosyid. Ketika beliau menjadi kholifah. Ketika beliau menunjuk Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) sebagai qodhi setelah tahun 170 H. Maka kekuasaan kehakiman ada di tangannya. Kemudian Harun Ar-Rosyid tidak menunjuk qodhi di negeri Iraq, Khurosan, Syam dan Mesir sampai di Afrika kecuali orang yang dipilih oleh Abu Yusuf!

Dia tidak menunjuk melainkan pengikut Abu Yusuf dan dan orang-orang yang menisbatkan pada madzhabnya yang baru, yaitu madzhab hanafi. Orang-orang awam dipaksa untuk mengambil hukum dengan mereka dan mengambil fatwa mereka. Sampai tersebar madzhab hanafi di negeri ini.

Sedangkan madzhab maliki tersebar di Andalus (Spanyol dan sekitarnya) dengan sebab kedudukan Yahya di sisi Al-Hakam (Penguasa Andalus). Sampai dikatakan oleh orang-orang: dua madzhab tersebar pada awal kemunculannya dengan kepemimpinan dan kekuasaan, madzhab hanafi di timur dan madzhab maliki di Andalus. Sampai disini nukilan dari Kitab Al-Khutot karya Al-Maqrizi, dan di dalam Kitab Bughyatul Multamis karya Adh-Dhobbiy, dan selain keduanya.

Syah Waliyulloh Ad-Dahlawi rohimahulloh berkata dalam Kitab Hujjatulloh Al-Balighoh: “Abu Yusuf menguasai urusan qodhi pada masa kekuasaan Harun Ar-Rosyid. Dia menjadi penyebab munculnya madzhab hanafi. Dan qodhi-qodhi dengan madzhab hanafi di seluruh penghujung negeri Iraq, Khurosan, dan sampai negeri di balik sungai. Demikian dinukil dari Kitab Tarikh Ibnu Kholdun dan Tarikh Al-Khulafa’.”

Al-Maqrizi berkata didalam Kitab Al-Khutot 2/333: “Ketika Harun Ar-Rosyid menjadi kholifah, dia menunjuk Abu Yusuf sebagai qodhi setelah tahun 170 H. Kemudian tidak diikuti secara taqlid di negeri-negeri Iraq, Khurosan, Syam dan Mesir kecuali orang yang ditunjuk oleh Abu Yusuf, dan dia menjadi sangat perhatian dengannya.

Demikian juga ketika berdiri Daulah Al-Hakam bin Hisyam di Andalus, Yahya mempunyai kedudukan di sisinya dan suaranya didengar. Maka Al-Hakam tidak menunjuk qodhi kecuali yang ditunjuk oleh Yahya. Maka madzhab malikiyah tersebar di Andalus dengan sebab Yahya, sebagaimana madzhab Hanafi tersebar di timur dengan sebab Abu Yusuf rohimahulloh. Demikian dinukil dari Kitab Bughyatul Multamis dan Naf’u At-Thoyyib.”
As-Sam’ani rohimahulloh berkata dalam Kitab Al-Ansab 1/503 yang dicetak di London: “Al-Malikiy, adalah penisbatan kepada Imam Malik rohimahulloh. Ibrohim bin Mahmud bin Hamzah Al-Malikiy rohimahulloh berkata: Muhammad bin Abdul Hakam rohimahulloh berkata kepadaku: Tidak ada orang Khurosan yang datang kepada kami yang lebih mengenal jalannya Malik dari pada engkau, maka jika kamu kembali ke Khurosan ajaklah manusia kepada pendapat Malik rohimahulloh! Ibrohim meninggal pada bulan sya’ban 369 H.”

Al-Maqrizi rohimahulloh di dalam Kitab Al-Khutot 3/333 berkata: “Afrika awalnya berada di atas sunnah-sunnah dan atsar, sampai Abdulloh bin Farrukh Abu Muhammad Al-Farisi rohimahulloh datang dengan madzhab hanafi. Kemudian Asad bun Furot bin Sinan rohimahulloh menguasai qodhi afrika dengan madzhab Hanafi.

Kemudian ketika Sahnun bin Said At-Tanuji rohimahulloh menjadi qodhi afrika setelah itu, dia menyebarkan madzhab malikiyah di antara orang-orang afrika. Kemudian Al-Mu’iz bin Badis membebani orang-orang afrika untuk berpegang dengan madzhab malikiy dan meninggalkan yang selainnya. Maka orang-orang afrika dan orang andalus memegang ke madzhab malikiyah sampai hari ini, dengan mencari apa yang ada pada sisi penguasa, dan semangat dalam mencari dunia. Karena urusan qodhi dan fatwa di seluruh negeri tidak ada kecuali dimiliki orang yang disebut dengan fikih di atas madzhab malikiyah. Maka oang-orang awam dipaksa untuk mengambil hukum dan fatwa mereka. Madzhab malikiyah tersebar di sana secara merata di daerah-daerah itu. Sebagaimana madzhab hanafi tersebar di negeri timur, ketika Abu Hamid Al-Isfaroyini rohimahulloh mempunyai kedudukan disisi kholifah Al-Qodir billah Abul Abas Ahmad –pada tahun 373 H-, dan sampai ke negeri Syam dan Mesir.”

Ibnu Farhun rohimahulloh berkata di dalam Kitab Ad-Dibaj: “Sesungguhnya madzhab Hanafi nampak kuat di Afrika sampai mendekati tahun 400 H.”

Dan yang dipegang oleh orang Afrika dulunya adalah hadits dan atsar. Kemudian madzhab Hanafi menguasainya, sebagaimana dijelaskan pada yang telah lalu. Ketika Al-Mu’iz Ibnu Badis berkuasa tahun 407 H, dia membebani penduduk Afrika dan negeri Magribidengan madzhab Malikiy. Dia memutuskan perselisihan di antara madzhab-madzhab. Demikan nukilan secara ringkas dari Kitab Kamil karya Ibnul Atsir, Tarikh karya Ibnu Kholikan, Mawasimul Adab dan Kitab Al-Khutot 2/333.

Penyebaran Madzhab Syafii

Ibnu Farhun rohimahulloh di dalam Kitab Ad-Dibaj dan ‘Abdul Hayyi Al-Luknawi di dalam Kitab Al-Fawaid Al-Bahiyah berkata: “Pengarang Kitab Thabaqat [Thobaqot] menyebutkan bahwa kemunculan madzhab Syafi’i pertama kali di Mesir, kemudian menjalar ke kebanyakan negeri Khurosan, Tauron, Syam, Yaman dan daerah di belakang sungai, negeri Persia, Hijaz dan sebagian negeri India. Juga sedikit masuk ke negeri Afrika dan Andalus setelah tahun 300 H.

Ibnu Hajar rohimahulloh di dalam Kitab Rof’ul Isror, As-Sakhowi rohimahulloh di dalam Kitab Al-I’lan bi At-Taubih, dan Ibnu Tulun rohimahulloh di dalam Ats-Tsaghr Al-Bassam menyebutkan: “Bahwa Ibnu ‘Utsman Ad-Dimasyqi Al-Qodhi, dialah yang pertama kali memasukkan madzhab syafi’i ke Syam. Dia diserahi untuk memegang jabatan qodhi di Damsyiq dan dia berhukum dengan madzhab syafi’i. Kemudian orang-orang setelahnya mengikutinya. Dia memberi 100 dinar bagi orang yang hafal Mukhtasor Al-Muzaniy. Dia meninggal tahun 303 H”.

As-Sam’aniy rohimahulloh di dalam Kitab Al-Ansab 1/336 berkata: “Syafi’i, penisbatan kepada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rohimahulloh. Abu Ali Al-Hasan bin Abdurrohman Al-Hasyimi rohimahulloh yang meninggal pada tahun 470 H lebih di Mekah, menisbatkan kepada madzhab Syafi’i. Suatu kali dia disebut Asy-Syafi’i.”
As-Sam’ani berkata: “karena aku mendengar Abu Al-‘Ula’ Ahmad berkata: Aku mendengar Abu Al-Fadhl Ahmad Al-Maqdisi berkata: Abu Ali ditanya tentang penisbatan madzhab ini. Maka Abu Ali berkata: “Ada seorang di suatu kaum menulis untuk dirinya Asy-Syafi’i! Kemudian penisbatan ini menjadi tsabit /tetap pada kami.”” Demikian dinukil secara ringkas.

Di dalam Kitab Tobaqot As-Subki dan Kitab Al-I’lan Wa At-Taubikh dan Syadzarotudz-Dzahab 3/51: "Sesungguhnya madzhab syafi’i tersebar di daerah seberang sungai Qofal Syasyi, dan dia meninggal tahun 365 H."

Dan di dalam Kitab Tarikh Ibnu Kholikan jilid kedua, dibawah judul Tarjamah (Riwayat hidup) An-Nashir Sholahuddin Yusuf bin Ayub: "Ketika Daulah Al-Ayubiyyah berkuasa pada abad kelima di Mesir, dia menghidupkan madzhab-madzhab dengan mendirikan madrasah-madrasah untuk para fuqoha’ dan dengan cara-cara yang lainnya. Madzhab Syafi’i mendapat perhatian yang sangat besar darinya. Qodhi-qodhi mengkhususkan madzhab syafi’i sebagai madzhab negara. Dan dinasti Ayub semuanya bermadzhab syafi’iy kecuali Isa bin Al-’Adil.”

Al-Maqrizi di dalam 3/344 berkata: “Kemudian ketika Daulah Turki Al-Bahriyah berkuasa, -sulthonnya adalah seorang bermadzhab syafi’i- terus-menerus memakai qodhi yang bermadzhab syafi’i, sampai Sulthon Al-Malik Adh-Dhohir Bibrus menjadikan qodhi terdiri dari empat madzhab, yaitu Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Terus hal itu terjadi pada tahun 665 H, sampai tidak tertinggal di kota-kota Islam selain madzhab-madzhab yang empat ini, dengan aqidah Asy’ariyah. Dan madzhab yang empat dan aqidah Asy’ariyah ini dipakai oleh para penganutnya di madrasah-madrasah dan yang lainnya diseluruh kerajaan Islam."

Adapun tentang Aqidah Asy'ariyah dan pencetusnya Insya Allah akan disampaikan pada kesempatan yang lain.

(Sumber: Tarikh Ahlul Hadits, Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dahlawi Al-Madany rohimahulloh)
***

Rabu, 09 September 2009

Imam Syafi’i rohimahulloh berada di atas madzhab ahli hadits, bahkan beliau termasuk mubaligh/ penyampai madzhab ahli hadits. Hal ini ditunjukkan oleh perkataan Imam Nawawi di dalam Tahdzib Asma wa Lughot (1/44) tentang riwayat hidup Imam Syafi’i: “kemudian beliau mengadakan perjalanan ke Iraq, menyebarkan ilmu hadits dan menegakkan madzhab ahlinya, yaitu madzhab ahli hadits.”

Imam Syafi’i rohimahulloh juga mengambil ilmu dari Imam Malik, kemudian menulis kitab-kitab ahli Iraq, beliau mengambil ahli hadits dan memilihnya bagi dirinya.
Imam Syafi’i rohimahulloh, beliau berkata: “Jika aku melihat seorang ahli hadits, maka seakan-akan aku melihat nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam hidup. (Kitab Syaraf Ashabil Hadits hal. 47 dengan sanad yang bersambung).

Imam Syafi’i rohimahulloh, beliau berkata: “Setiap permasalahan yang tentangnya telah sohih dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam disisi ahli naql (penukil hadits) menyelisihi apa yang aku katakan, maka aku ruju’ darinya baik saat masa hidupku atau saat masa matiku”(Riwayat Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 9/107).

Imam Syafi’i berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh: "Wahai Abu Abdillah (kunyah Imam Ahmad)! Engkau lebih mengetahui hadits daripada aku, maka kalau ada hadits shohih, beritahukanlah kepadaku sehingga aku bisa mencarinya; apa itu berasal dari syam, atau dari kufah atau dari bashroh.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim di dalam Adab Asy-Syafi’i hal. 94-95)

Ibnu Muflih dalam Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyah 3/153: Al-Buwaithi rohimahulloh –murid Asy-Syafi’i rohimahulloh-: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata: Aku telah menulis kitab ini padahal aku belum meneliti ulang di dalamnya, maka semestinya ditemukan di dalamnya kesalahan, karena Alloh berfirman: “Kalau seandainya Al-Qur’an itu dari sisi selain Alloh maka mereka akan menemukan didalamnya perselisihan yang banyak” (An-Nisa: 82). Maka apapun yang kalian temukan dalam kitab-kitabku ini yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah maka aku telah ruju’ darinya.”

Imam Syafi’i, beliau tidak mempunyai kitab tersendiri yang membahas ilmu furu’. Kitab beliau Al-Umm dan Ar-Risalah membahas dalam masalah ushul fikih. Padahal beliau juga menyatakan ada kesalahan dalam tulisannya tersebut, dan Beliau ruju’ ketika masa hidupnya. Sebagaimana dinukil oleh murid beliau Al-Jalil Al-Buwaithi rohimahulloh. Al-Buwaithi berkata: aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Aku telah menulis kitab ini, dan aku belum meneliti ulang apa yang dikandungnya, sudah semestinya didalamnya akan ditemukan kesalahan, karena Alloh berfirman:
“Kalau seandainya ia berasal dari selain Alloh maka mereka akan menemukan didalamnya perselisihan yang banyak” (QS. An-Nisa’: 82)
Maka apa yang kalian temui dalam kitabku ini, perkara-perkara yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah maka sungguh aku telah ruju’ darinya.” (Lihat Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyah 3/154).

(Disadur dari Tarikh Ahlul Hadits, Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dahlawi Al-Madany rohimahulloh)

Nasabnya: Beliau adalah Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris yang bersambung nasabnya dengan Hasyim bin Al-Muththolib bin ‘Abdi Manaf Al-Qurosyi Al-Muththolibi.

Kelahiran dan Pertumbuhannya: Beliau lahir di ‘Asqolan pada tahun 150 H, dan tumbuh besar di Makkah. Kemudian tinggal di Mesir, dan meninggal pada hari terakhir bulan Rojab 204 H.

Hapalan Qur’an dan Semangat Beliau dalam menuntut ilmu syar’i:

Al-Muzani berkata: Aku mendengar As-Syafii berkata: “Aku menghapal Al-Qur’an pada umur tujuh tahun, dan aku menghapal Al-Muwaththo (karya Al-Imam Malik) pada umur sepuluh tahun.”
Asy-Syafii rohimahulloh berkata: “Senantiasa semangatku ada dalam dua perkara: memanah dan menuntut ilmu syar’i.”

Seorang imam dalam lughoh (bahasa arab)
Abul Walid Ibnu Abil Jarud berkata: “Dulu dikatakan bahwa Asy-Syafii adalah lughoh itu sendiri yang dijadikan sebagai hujjah.”

Seorang Imam dalam Fiqih
Ahmad bin Ali Al-Jurjani berkata: “Dulu Al-Humaidi jika menyebut Asy-Syafii, dia mengatakan: ‘Telah memberitahukan kepada kami Sayyidnya para ahli fiqih, Al-Imam Asy-Syafii’.”
Yahya bin Said Al-Qoththon berkata: “Tidaklah aku melihat orang yang lebih berakal dan lebih faqih daripada Asy-Syafii.”
Ali bin Al-Madini berkata kepada anaknya: “Jangan engkau meninggalkan satu huruf pun dari ucapan Asy-Syafii untuk ditulis, sesungguhnya dia memiliki ma’rifah (pengetahuan tentang agama).”

Imam dalam Ushul:
Beliaulah yang pertama kali membuat tulisan dalam ushul fiqih sebagai satu ilmu tersendiri.

Pembela hadits:
Harmalah berkata: Aku mendengar Asy-Syafii berkata: “Aku dijuluki di Baghdad sebagai pembela hadits.”

Mujaddid Abad kedua hijriyah
Ahmad bin Hanbal berkata: “Sesungguhnya Allah menakdirkan untuk manusia pada setiap 100 tahun orang yang mengajari mereka sunnah-sunnah Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, dan meniadakan kedustaan atas Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian kami memperhatikan ternyata pada awal tahun seratus adalah Umar bin Abdul Aziz, dan pada awal tahu dua ratus adalah Asy-Syafii.”

Doa para ulama untuk beliau
Ahmad bin Hanbal berkata: “Tidaklah aku melewati malam selama 30 tahun, melainkan aku berdoa kebaikan kepada Allah untuk Asy-Syafii dan memohonkan ampun untuk beliau.”
Abdurrohman bin Mahdi berkata: “Aku tidak menunaikan satu sholat pun melainkan aku mendoakan kebaikan untuk Asy-Syafii di dalam sholat itu.”
Yahya bin Said Al-Qoththon berkata: “Tidaklah aku melihat seorang yang lebih berakal dan lebih faqih daripada Asy-Syafii. Dan aku berdoa kebaikan kepada Allah untuk beliau, aku khususkan beliau saja dalam setiap sholat.”

Dan keutamaan Al-Imam Asy-Syafii sangatlah banyak dan terkenal sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dan hal itu telah dikumpulkan oleh Ibnu Abi Hatim, Zakariya As-Saji, Al-Hakim, AL-Baihaqi, Al-Harowi, Ibnu Asakir dan lainnya.
(Sumber: Tahdzib Ath-Tahdzib (3/496-500) dengan perubahan susunan)

Senin, 07 September 2009

Ulama-ulama Syafiiyah:

Berikut ini biografi ulama syafiiyah (sebagian tabaqat [thobaqot] ulama syafiiyah):
1. Al-Imam Asy-Syafii, Muhammad bin Idris (150-204 H)
2. Robi’ bin Sulaiman Al-Murodi, salah satu murid Al-Imam Syafi’i
3. Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuni (- 449 H)
4. Al-Imam Al-Hafizh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi (631-676 H)
5. Al-Imam Adz-Dzahabi
6. Al-Hafizh Ibnu Katsir
7.  Al-Imam Ibnu Daqiq Al-Ied
8. Al-Imam Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani (773 – 852 H)
9. Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi (849-911 H)
dan lainnya menyusul Insya Alloh.

Ulama-ulama ahlussunnah wal jamaah lainnya:
1. Al-Imam Ahmad bin Hambal (murid Al-Imam Asy-Syafi'i)
2. Al-Imam Al-Bukhori
3. Al-Imam Muslim
4. Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260-324 H)
5. Al-Imam Ash Shan’ani, Muhammad bin Ismail bin Shalah Al Amir Al Kahlani (1059-1182 H)
Dan lainnya menyusul Insya Alloh.

Hak Cipta @ 2009

Boleh menyalin dari blog: FatwaSyafii.wordpress.com atau FatwaSyafiiyah.blogspot.com untuk kepentingan dakwah Islam dengan mencantumkan url sumber untuk setiap artikel.

Posting Pilihan