Telah lewat kepada kita artikel tentang hukuman Imam Asy-Syafii terhadap ahli kalam. Dan juga pernyataan beliau dan Imam An-Nawawi yang mengharamkan ilmu kalam. Demikian ini diantara hikmahnya karena ilmu kalam akan membawa seseorang kepada kebinasaan. Agamanya akan hancur dengan ilmu kalam. Dan na’udzu billah dia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan ragu dengan agama Islam.
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Imam Al-Khoththobi -salah seorang ulama madzhab syafii- menerangkan hadits ini:
Asalnya tanaththu’ adalah berdalam-dalam dalam pembicaraan untuk menampakkan kefasihan. Ini asal makna tanaththu’ secara etimologi. Dan tanaththu’ itu ada beberapa macam: dalam pembicaraan, dalam istidlal, dan dalam ibadah.
Yang berkaitan dengan uraian di sini bahwa salah satunya adalah tanaththu’ (berdalam-dalam) dalam masalah istidlal. Inilah jalan ahli kalam dan ahli manthiq yang menyimpang dari beristidlal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi malah beristidlal dengan kaedah-kaedah ilmu manthiq dan istilah-istilah ahli kalam.
Ilmu mathiq (mantiq) itu berasal darimana? Kaedah-kaedah ilmu manthiq itu berasal dari mana? Datang dari Al-Yunan. Mereka para ahli manthiq mengambilnya dan menerapkannya dalam islam. Mereka tidak mau beristidlal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengatakan: “Sesungguhnya dalil-dalil naqli (sam’iyyah/wahyu) tidak memberi faedah keyakinan. Yang memberi faedah keyakinan adalah dalil-dalil aqli” -menurut mereka-. Sehingga mereka binasa dengan hal itu, sebagaimana dinyatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Yang wajib istidlal itu dengan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma para ulama muslimin, dan qiyas yang shahih, sebagaimana metode ahlussunnah wal jamaah.
Oleh karena itu Imam Asy-Syafii sangat keras terhadap ahli kalam sebagaimana yang telah lalu. Sampai beliau mengatakan:
“Hukumku pada ahlil kalam, mereka dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan ke unta, kemudian diarak berkeliling di kabilah-kabilah dan suku-suku, kemudian diserukan tentang mereka ‘Ini balasan orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menghadap diri kepada Ilmu Kalam’.”
(Manaqib Asy-Syafii karya Al-Baihaqi 1/462, cet, Dar At-Turots).
Di antara ahli kalam ada yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menggantinya dengan kaedah-kaedah ilmu manthiq, sampaipun dalam masalah aqidah, yang sekarang disebut ilmu tauhid, tetapi mereka menyebutnya dengan ilmu manthiq dan ilmu kalm. Oleh karena itu mereka terjatuh pada kebinasaan. Mereka sudah sesat, menyesatkan lagi. Mereka sendiri berakhir pada kebingungan, sebagaimana disaksikan oleh para pembesar mereka. Sebagian mereka ketika meninggal, meminta kesaksian para hadirin bahwa dia meninggal dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, padahal dia telah menghabiskan umurnya dalam ilmu kalam, jidal dan ilmu manthiq.
Inilah tempat kembalinya orang-orang yang berdalam-dalam. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian. Persaksian diri mereka sendiri ada. Dan itu menunjukkan kebenaran sabda Nabi di atas.
(Sumber: Aunul Ma’bud, I’anatul Mustafid (1/279-280) dan lainnya)
Sebelum kita menyimak apa yang dikatakan para ulama tentang perdebatan, kita hendaknya meresapi kandungan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
I. Perkataan Imam Asy-Syafii rahimahullah
1. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii rahimahullah:
2. Az-Za’faroni berkata: Aku mendengar Asy-Syafii rahimahullah berkata:
3. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata:
II. Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah
1. Beliau berkata:
2. Abul Muzhaffar As-Sam’ani berkata dalam Kitab Al-Intishor Li Ahlil Hadits: Imam Malik rahimahullah pernah ditanya siapa ahli bid’ah itu. Maka beliau menjawab:
3. Imam Malik rahimahullah berkata:
III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah
1. Abdus bin Malik Al-‘Aththar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:
2. Al-‘Abbas bin Ghalib Al-Warroq berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hambal: Wahai Abu Abdillah, aku duduk dalam satu majlis yang tidak ada yang mengetahui sunnah selainku. Kemudian ada seorang ahli kalam ahli bid’ah berbicara, apakah aku bantah dia?” Beliau menjawab: “Jangan engkau dudukkan dirimu untuk demikian ini. Beritahu kepadanya sunnah dan jangan berdebat.” Kemudian aku mengulangi perkataanku lagi, sampai beliau berkata: “Aku tidak memandangmu kecuali seorang yang suka membantah.”
IV. Perkataan para ulama yang lain
1. Al-Auza’i rahimahullah berkata:
2. Al-Auza’i rahimahullah juga pernah berkata
2. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah -seorang tabiin- pernah ditanya: “Apakah engkau berjidal?” Dia menjawab:
3. Seseorang (yang mau mendebat) berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah: “Bolehkah aku mengatakan kepadamu satu kata saja?” Ayyub rahimahullah menjawab:
Kita telah mengetahui sebagian pendapat Imam Syafii tentang hukuman bagi ahli kalam. Untuk lebih meyakinkan kita tentang bahayanya ilmu kalam, akan dibawakan perkataan para imam yang lainnya tentang ilmu kalam.
Telah banyak ungkapan para salaf, seperti Imam Syafii, Imam Ahmad dan lainnya yang memperingatkan dari ilmu kalam dan ahli kalam. Dan sebagaimana yang telah lalu bahwa ilmu kalam akan menghantarkan kepada syubhat (kesamaran) dan keraguan-keraguan.
I. Perkataan-perkataan Imam Asy-Syafii tentang ilmu kalam
1. Imam Ahmad berkata:
2. Imam Ahmad meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii:
3. Ar-Robi’ berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata:
لَأَنْ يَبْتَلِيَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْعَبْدَ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ بِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ الْأَهْوَاءِ .
“Kalau Allah menguji seorang hamba dengan semua dosa selain menyekutukan-Nya, itu lebih baik baginya daripada al-ahwa (bid’ah, ilmu kalam).”
4. Ibnu ‘Abdil Hakam berkata Imam Asy-Syafii:
لَوْ عَلِمَ النَّاسُ مَا فِي الْأَهْوَاءِ مِنْ الْكَلَامِ لَفَرُّوا مِنْهُ كَمَا يَفِرُّونَ مِنْ الْأَسَدِ .
“Kalau seorang mengetahui apa yang ada pada al-ahwa (bid’ah) dari ilmu kalam, sungguh mereka akan lari darinya sebagaimana lari dari singa.”
5. Imam Asy-Syafii juga berkata:
مَا أَحَدٌ ارْتَدَى بِالْكَلَامِ فَأَفْلَحَ ،
“Tidak ada seorang pun jatuh dalam ilmu kalam, kemudian dia bisa beruntung.”
6. Al-Muzani bertanya kepada Imam Asy-Syafii tentang satu masalah dari ilmu kalam. Kemudian beliau balik bertanya: “Sedang dimana engkau?” Al-Muzani menjawab: “Di Masjid Jami di Fusthoth.” Kemudian Imam Ay-Syafii berkata: “Engkau sedang berada di Taron.” Taron adalah satu tempat di Laut Al-Qulzum, dimana hanpir tidak ada satu perahu yang selamat di sana. Kemudian Imam Asy-Syafii memberikan satu masalah fiqih kepadanya. Kemudian dia menjawabnya. Kemudian beliau memasukkan kepada Al-Muzani sesuatu yang merusak jawabannya. Kemudian Al-Muzani menjawab dengan selain itu. Kemudian beliau memasukkan sesuatu yang merusak jawabanku. Setiap kali Al-Muzani menjawab, beliau mendatangkan sesuatu yang merusak jawaban itu. Kemudian Imam Asy-Syafii berkata:
Kemudian Al-Muzani meninggalkan ilmu kalam dan menghadap kepada ilmu fiqih.
7. Imam Asy-Syafii berkata:
لَوْ أَنَّ رَجُلًا أَوْصَى بِكُتُبِهِ مِنْ الْعِلْمِ لِآخَرَ ، وَكَانَ فِيهَا كُتُبُ الْكَلَامِ لَمْ تَدْخُلْ فِي الْوَصِيَّةِ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ الْعِلْمِ .
“Kalau seseorang berwasiat dengan kitab-kitabnya kepada orang lain, dan di dalamnya ada kitab-kitab ilmu kalam, maka kitab-kitab ilmu kalam itu tidak termasuk dalam wasiat, karena itu bukanlah ilmu (yang bermanfaat.”
Nuh Al-Jami’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Hanifah tentang ilmu kalam seperti al-a’radh dan al-ajsam yang diadakan oleh orang-orang, maka dia menjawab:
مَقَالَاتُ الْفَلَاسِفَةِ ، عَلَيْكَ بِطَرِيقِ السَّلَفِ وَإِيَّاكَ وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ .
“Perkataan-perkataan filsafat, wajib engkau menempuh jalan salaf, dan hati-hati engkau dari setiap perkara yang baru.”
III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah (salah seorang murid Imam Asy-Syafii)
1. Imam Ahmad rahimahullah berkata:
لاَ يُفْلِحُ صَاحِبُ كَلاَمٍ أَبَدًا
“Ahli kalam tidak akan beruntung selama-lamanya.”
2. Imam Ahmad rahimahullah juga telah melarang melihat dan membaca kitab-kitab ahli kalam dan ahli bid’ah yang menyesatkan.
Beliau berkata dalam riwayat Al-Marrudzi:
لَسْت بِصَاحِبِ كَلَامٍ، فَلَا أَرَى الْكَلَام فِي شَيْء إلَّا مَا كَانَ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَوْ حَدِيثٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَوْ عَنْ التَّابِعِينَ، فَأَمَّا غَيْر ذَلِكَ فَالْكَلَام فِيهِ غَيْرُ مَحْمُود
“Bukanlah aku termasuk ahli kalam. Aku tidak memandang ilmu kalam sedikitpun melainkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, atau hadits Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, para shohabatnya rodhiyallahu ‘anhum atau dari tabiin. Adapun yang selain dari itu maka berbicara tentangnya tidak terpuji.” (Diriwayatkan oleh Al-Khollal)
3. Beliau berkata kepada seseorang dalam riwayat Ahmad bin Ash-rom:
إيَّاكَ وَمُجَالَسَةَ أَصْحَاب الْخُصُومَاتِ وَالْكَلَامِ
“Hati-hatilah dari duduk-duduk dengan orang yang suka berdebat dan dengan ahli kalam.” (Diriwayatkan Abu Nashr As-Sajzi)
4. Dalam riwayat Ahmad bin Ashrom: Imam Ahmad rahimahullah juga berkata kepada seseorang:
لَا يَنْبَغِي الْجِدَالُ، اتَّقِ اللَّهَ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُنَصِّبَ نَفْسَكَ، وَتَشْتَهِر بِالْكَلَامِ، لَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا لَتَقَدَّمَنَا فِيهِ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إنْ جَاءَك مُسْتَرْشِد فَأَرْشِدْهُ .
“Tidak sepantasnya untuk berjidal (debat kusir), bertakwalah kepada Allah. Tidak sepantasnya engkau mendudukan dirimu dan engkau terkenal dengan ilmu kalam. Kalau hal ini baik, sungguh kita akan didahului oleh para shohabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah itu. Namun jika datang seseorang meminta bimbingan kepadamu, maka berilah bimbingan.” (Diriwayatkan Abu Nashr As-Sajzi)
5. Beliau berkata dalam satu riwayat Hanbal:
عَلَيْكُمْ بِالسُّنَّةِ وَالْحَدِيث وَمَا يَنْفَعكُمْ ، وَإِيَّاكُمْ وَالْخَوْضَ وَالْمِرَاءَ فَإِنَّهُ لَا يُفْلِح مَنْ أَحَبَّ الْكَلَام
“Wajib kamu berpegang dengan sunnah, hadits dan yang memberi manfaat kepadamu. Dan hati-hatilah kamu dari berdebat, jidal, sesungguhnya tidak akan beruntung orang yang menyukai ilmu kalam.”
6. Beliau juga berkata:
لَا تُجَالِسْهُمْ وَلَا تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ
“Jangan engkau duduk-duduk dengan ahli kalam, dan jangan kamu mengajak bicara kepada seorang pun dari mereka.”
7. Beliau juga menyebutkan ahli bid’ah dan berkata:
لَا أُحِبُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ وَلَا يُخَالِطَهُمْ وَلَا يَأْنَسَ بِهِمْ، وَكُلُّ مَنْ أَحَبَّ الْكَلَام لَمْ يَكُنْ آخِرُ أَمْرِهِ إلَّا إلَى بِدْعَة لِأَنَّ الْكَلَام لَا يَدْعُو إلَى خَيْر، عَلَيْكُمْ بِالسُّنَنِ وَالْفِقْه الَّذِي تَنْتَفِعُونَ بِهِ وَدَعُوا الْجِدَالَ وَكَلَامَ أَهْلِ الْبِدَع وَالْمِرَاءِ ، أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَمَا يَعْرِفُونَ هَذَا وَيُجَانِبُونَ أَهْلَ الْكَلَامِ
“Aku tidak suka seseorang untuk duduk-duduk dengan mereka dan bergaul dengan mereka, dan beramah-tamah dengan mereka. Setiap orang yang menyukai ilmu kalam, akhir urusannya tidak lain kecuali kepada bid’ah, karena ilmu kalam tidak mengajak kepada kebaikan. Wajib kalian memegang sunnah-sunnah dan fikih yang kalian bisa mendapat manfaat dengannya. Tinggalkan jidal, ucapan ahli bid’ah dan orang yang suka berdebat. Kita telah mendapati para pendahulu, mereka tidak mengenal hal ini dan menjauhi ahli kalam.”
8. Imam Ahmad berkata dalam risalahnya kepada Musaddad, dia berkata:
وَلَا تُشَاوِرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ فِي دِينِك، وَلَا تُرَافِقْهُ فِي سَفَرِك .
“Jangan engkau bermusyawarah dengan seorang pun dari ahli bid’ah dalam agamamu. Jangan temani dia dalam safar.”
9. Imam At-Tirmidzi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata:
مَنْ تَعَاطَى الْكَلَامَ لَا يُفْلِحُ، وَمَنْ تَعَاطَى الْكَلَامَ لَمْ يَخْلُ مِنْ أَنْ يَتَجَهَّمَ .
“Orang yang mengambil ilmu kalam tidak akan beruntung. Dan barangsiapa mengambil ilmu kalam, tidak bisa lepas dari menjadi jahmiyah.”
Hukum Imam Syafii & Imam An-Nawawi terhadap Ahli Kalam
حُكْمِي فِي أَهْلِ الْكَلَامِ أَنْ يُضْرَبُوا بِالْجَرِيدِ وَيُحْمَلُوا عَلَى الْإِبِلِ وَيُطَافَ بِهِمْ فِي الْقَبَائِل وَالْعَشَائِر ، وَيُنَادَى عَلَيْهِمْ هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّة وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلَامِ
“Hukumku pada ahlil kalam, mereka dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan ke unta, kemudian diarak berkeliling di kabilah-kabilah dan suku-suku, kemudian diserukan tentang mereka ‘Ini balasan orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menghadap diri kepada Ilmu Kalam’.”
(Manaqib Asy-Syafii karya Al-Baihaqi 1/462, cet, Dar At-Turots).
Demikianlah peringatan Imam Asy-Syafii tentang ilmu kalam dan ahli kalam, karena hal itu akan menghantarkan kepada syubhat (kesamaran) dan keraguan-keraguan
Mereka, para ahli kalam, memang berhak mendapatkan apa yang dikatakan Imam Asy-Syafii dari sisi agar mereka bertaubat kepada Allah dan memperingatkan yang lainnya agar tidak mengikuti mereka. Jika kita melihat kepada mereka dari sisi yang lain: mereka telah dikuasai kebingungan dan dikuasai setan. Sehingga kemudian kita mengasihi mereka dan kita berlemah lembut kepada mereka. Dan kita memuji Allah yang telah menyelamatkan kita dari fitnah/ujian yang ditimpakan Allah kepada mereka.
Kita memandang kepada para ahli kalam dengan dua pandangan:
1. pandangan dari sisi syariat: kita memberikan didikan kepada mereka dan melarang mereka dari menyebarkan madzhab mereka.
2. pandangan dari sisi taqdir: kita menyayangi mereka dan meminta kepada Allah agar mereka diberi al-afiyah (keselamatan) dari kesesatan, dan kita memuji Allah yang telah menyelamatkan kita dari keadaan mereka yang menyimpang.
Kebanyakan orang yang dikawatirkan tersesat adalah orang-orang yang masuk dalam ilmu kalam, namun tidak sampai pada puncak ilmu kalam. Maksudnya: orang yang tidak masuk ke dalam ilmu kalam berada dalam keselamatan. Sedangkan orang yang telah sampai kepada puncak ilmu kalam, menjadi jelas bagi dirinya tentang kerusakan ilmu kalam, dan dia kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana yang terjadi pada sebagian tokoh ilmu kalam.
Sehingga masih tersisa kekawatiran atas orang yang keluar dari jalan Ash-Shiroth Al-Mustaqim dan tidak mengetahui hakekat perkara ilmu kalam.
Kita merasa cukup dengan Al-Qur’an, As-Sunnah dan atsar dari salaf dari semua ilmu kalam. Namun kebanyakan orang menisbatkan dirinya kepada sebagian kelompok ahli kalam dan berbaik prasangka kepada mereka, tidak pada yang lainnya. Karena mereka menyangka bahwa ahli kalam itu telah meneliti dalam masalah keyakinan yang tidak dilakukan oleh orang lain. Sampai kalau didatangkan satu ayat, dia tidak akan mengikutinya, kecuali jika dibawakan perkataan dari sebagian ahli kalam.
لَأَنْ يَلْقَى اللَّهُ الْعَبْدَ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَيْءٍ مِن الْكَلَامِ
“Kalau seandainya Allah menemui seorang hamba dengan membawa dosa selain kesyirikan, itu lebih baik daripada menemuinya dengan sesuatu dari ilmu kalam.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab )
Kemudian Imam An-Nawawi berkata mengomentari ucapan Imam Asy-Syafii tersebut:
وَقَدْ بَالَغَ إمَامُنَا الشَّافِعِيُّ رحمه الله تعالى:فِي تَحْرِيمِ الِاشْتِغَالِ بِعِلْمِ الْكَلَامِ أَشَدَّ مُبَالَغَةٍ، وَأَطْنَبَ فِي تَحْرِيمِهِ، وَتَغْلِيظِ الْعُقُوبَةِ لِمُتَعَاطِيهِ، وَتَقْبِيحِ فِعْلِهِ، وَتَعْظِيمِ الْإِثْمِ فِيهِ فَقَالَ: " لَأَنْ يَلْقَى اللَّهُ الْعَبْدَ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَيْءٍ مِنْ الْكَلَامِ "، وَأَلْفَاظُهُ بِهَذَا الْمَعْنَى كَثِيرَةٌ مَشْهُورَةٌ
“Imam kita Asy-Syafii telah sangat keras mengharamkan menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Beliau sangat tegas dalam mengharamkannya, mengeraskan hukuman bagi orang yang simpati kepadanya, memperjelek perbuatannya, serta menyebutkan besar dosanya. Makanya beliau berkata: ‘Kalau seandainya Allah menemui seorang hamba dengan membawa dosa selain kesyirikan, itu lebih baik daripada menemuinya dengan sesuatu dari ilmu kalam’. Dan ungkapan-ungkapan beliau yang semakna dengan ini sangat banyak dan masyhur.” (Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab)
Lalu bagaimana dengan kebanyakan dari kaum muslimin sekarang di Indonesia , Malaysia, dan lainnya yang mengaku bermadzhab syafii namun masih saja belajar ilmu kalam dalam masalah aqidah dan tidak mengikuti wejangan Imam Asy-Syafii ini?
1. Imam Malik (guru Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh-
Al-Qodhi ‘Iyadh rohimahulloh berkata dalam kitabnya Tartib Al-Madarik Wa Taqrib Al-Masalik 2/54: At-Tinisi berkata: Kami dulu berada di sisi Malik, dan para muridnya berada di sekelilingnya. Kemudian seorang dari penduduk Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kaum yang disebut dengan sufiyah, dimana mereka makan banyak, kemudian mereka mulai membaca qasidah-qasidah [qashidah, qoshidah], kemudian bangkit dan menari.” Maka Imam Malik berkata: “Apakah mereka anak-anak?” Dia menjawab: “Tidak.” Imam Malik bertanya: “Apakah mereka orang-orang gila?” Dia menjawab: “Bahkan mereka adalah para tokoh agama yang berakal!” Maka Imam Malik berkata: “Aku tidak mendengar bahwa seorang muslim akan melakukan demikian.”
2. Imam Ahmad bin Hambal (murid Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh-
Beliau memperingatkan dari berteman dan duduk-duduk dengan mereka. Beliau pernah ditanya tentang nasyid-nasyid dan qasidah-qasidah –yang disebut sima’- yang dilakukan Sufiyah. Maka beliau mengatakan: “Itu perkara yang diada-adakan dalam agama (tidak ada landasannya dalam agama Islam).” Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Apakah boleh kami duduk-duduk dengan mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.”
Dan Imam Ahmad juga berkata tentang Al-Harits Al-Muhasibi –seorang imam tasawuf-. Maka beliau berkata kepada murid-muridnya: “Aku tidak mendengar tentang hakekat-hakekat seperti perkataan orang ini. Dan aku tidak berpadangan engkau boleh duduk-duduk dengannya.” (Tahdzibut Tahdzib 1/327)
3. Abu Zur’ah Ar-Rozi -rohimahulloh-
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam At-Tahdzib: Al-Bardza’i berkata: Abu Zur’ah ditanya tentang Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya, maka dia menjawab: “Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, (yang berisi) bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Dan wajib kamu berpegang teguh dengan al-atsar (hadits, sunnah, petunjuk Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam), sesungguhnya engkau akan mendapati dalam atsar yang mencukupimu dari kitab-kitab ini.”
Kemudian ada yang bertanya kepadanya: “Di dalam kitab-kitab ini ada pelajaran?”
Dia menjawab: “Baangsiapa yang tidak mendapat pelajaran dalam Kitabulloh, maka dia tidak akan mendapat pelajaran dalam buku-buku ini. Apakah telah ada kabar sampai kepada kalian bahwa Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, atau Al-Auza’i atau para imam lainnya menulis kitab-kitan tentang lintasan-lintasan hati dan was-was (bisikan-bisikannya) serta perkara-perkara ini? Kaum sufiyah ini telah menyelisihi para ulama. Kadang mereka membawa Al-Muhasibi kepada kita, kadang membawa Abdurrohim Ad-Daili, dan kadang membawa Hatim Al-Ashom... Betapa cepatnya manusia berlari menuju para ahli bid’ah ini.”
Orang-orang sufi itu berpaling dari syariat Islam, karena mereka bodoh tentang syariat dan suka mengada-adakan perkara agama dengan pendapat ro’yu (akal) mereka. Mereka senang dengan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) dalam beragama dan beribadah.
Begitulah kebanyakan orang yang mengaku bermadzhab syafii, tidak mengambil pendapat/perkataan Imam Asy-Syafii kecuali yang mencocoki hawa nafsu mereka dalam masalah fiqih dan ibadah. Sedangkan dalam masalah aqidah dan manhaj tidak menempuh jalan yang ditempuh beliau. Padahal masalah aqidah dan tauhid itulah dasar agama.
Hal ini nampak sangat jelas dalam teks-teks ucapan beliau tentang firqoh (golongan, sekte) ini.
Di antara ucapan beliau:
Dungu adalah sedikitnya akal. Dan itu adalah penyakit yang berbahaya.
Tidaklah aneh ahli tasawwuf dalam waktu kurang dari sehari akan menjadi orang yang dungu. Tulisan-tulisan mereka sendiri menjadi saksi tentang hal itu.
An-Nabhani -seorang sufi- dalam kitabnya yang penuh dengan khurofat, kezindiqan, dan kesesatan; yang berjudul Jami’ Karomat Auliya tentang biografi Ahmad bin Idris, dia berkata:
[Di antara karomahnya yang agung yang tidak bakal dicapai kecuali oleh orang-orang tertentu adalah berkumpulnya dia dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan bangun (terjaga), kemudian dia mengambil wirid-wiridnya, hizb-hizbnya dan sholawatnya yang masyhur dari beliau secara langsung ......
Dia (Ahmad bin Idris) diuji dengan hilangnya indera dengan benda-benda yang ada. Kemudian dia mengeluhkan kepada sebagian guru-gurunya. Kemudian sang guru berkata: ‘Kaana (Jadilah dia).’ Ahmad bin Idris menceritakan dirinya: Maka dengan semata ucapan sang guru “kaana”, hilang dariku semua rasa sakit, kemudian aku bangkit waktu itu juga dan jadilah aku seperti orang yang tidak ditimpa sesuatupun. Aku memuji Allah. Dan aku mengetahui bahwa telah pasti apa yang dikatakan para tokoh sufi: Awal jalan adalah junun (kegilaan), pertengahannya funun, dan akhirnya ‘kun fa yakun’.”]
Perkataan ini tidak pernah diucapkan oleh seorang yang berakal sama sekali. Karena tidak ada yang berhak dengan sifat seperti ini -yaitu mengucapkan kepada sesuatu ‘kun fa yakun’ selain Allah. Allah berfirman tentang Diri-Nya:
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (Kun fa Yakun). (Yasin: 82)
Mereka –ahil tasawwuf- telah mengakui bahwa diri mereka adalah gila.
Sehingga tidak keliru ketika Imam Asy-Syafii mengatakan: “Tidaklah aku melihat seorang sufi yang berakal sama sekali.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)
ودع الذين اذا أتوك تنسكوا ... واذا خلوا فهم ذئاب خفاف
Tinggalkan orang-orang yang bila datang kepadamu menampakkan ibadah
Namun jika bersendirian, mereka serigala buas (Talbis Iblis hal. 371)
Kenyataan sufiyah menjadi saksi apa yang dikatakan Imam Asy-Syafii bahwa dasar landasan mereka adalah malas. Mereka adalah orang yang paling rajin dalam menunaikan bid’ah dan penyelisihan syariat. Dan mereka juga orang yang paling sangat malas dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menghidupkan sunnah-sunnah nabi (tuntunan-tuntunan nabi) shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sebagai tambahan... suatu waktu Imam Waki’ (salah satu guru Imam Asy-Syafii) berkata kepada Sufyan bin ‘Ashim: “Kenapa engkau meninggalkan hadits Hisyam?” Sufyan bin Ashim menjawab: “Aku berteman dengan satu kaum dari sufiyyah, dan aku merasa kagum dengan mereka, kemudian mereka berkata: ‘Jika kamu tidak menghapus hadits Hisyam, kami akan berpisah denganmu’.” Maka Imam Waki’ berkata: “Sesungguhnya ada kedunguan pada mereka.” (Talbis Iblis hal 371-372)
Insya Allah menyusul perkataan imam ahlussunnah wal jamaah -imam salaf- yang lainnya tentang sufiyyah.
***
Dan ini diamalkan oleh para tokoh madzhab syafiiyah, semoga Allah merohmati mereka semua.
Sebagai contoh adalah apa yang dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi:
“Para pengikut madzhab syafiiyah telah mengamalkan perkataan beliau ini dalam masalah at-tatswib dan disyaratkannya tahallul dari ihram dengan udzur sakit serta yang lainnya yang diketahui dalam kitab-kitab madzhab. Di antara yang dihikayatkan bahwa dia berfatwa dengan hadits dari pengikut madzhab syafiiyah adalah Abu Ya’qub Al-Buwaithi dan Abu Al-Qashim Ad-Daraki.
Dan termasuk di antara yang mengamalkan perkataan beliau ini dari para pengikut madzhab syafiiyah yang para ahli hadits adalah: Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqi dan lainnya. Dan sekumpulan dari orang-orang terdahulu dari pengikut madzhab syafiiyah jika memandang satu masalah tentang ada sebuah hadits, sedangkan madzhab Asy-Syafii menyelisihinya maka mereka mengamalkan hadits tersebut dan berfatwa dengannya, dengan mengatkan bahwa madzhab Asy-Syafii adalah apa yang mencocoki hadits.
Asy-Syaikh Abu ‘Amr berkata: ‘Barangsiapa dari pengikut madzhab syafiiyah mendapati satu hadits menyelisihi madzhabnya dia meneliti. Jika sempurna alat-alat ijtihad pada dirinya secara mutlak atau dalam satu masalah, maka dia bebas beramal dengannya. Jika tidak sempurna alat ijtihad dan dia merasa berat menyelisihi hadits setelah melakukan pembahasan kemudian dia tidak mendapati jawaban yang memuaskan dari orang yang menyelisihinya, maka dia berhak untuk beramal dengan hadits itu jika seorang imam selain Asy-Syafii mengamalkannya. Maka ini menjadi udzur baginya untuk meninggalkan imamnya dalah masalah ini.’
Apa yang dikatakan beliau ini sungguh bagus. Wallahu a’lam.”
Contoh lain adalah jawaban Taqiyyuddin As-Subki dalam sebuah risalah Ma’na Qouli Asy-Syafii (3/103) tentang sebuah pertanyaan: jika seseorang tidak mendapati orang yang mengamalkan hadits tersebut, apa yang dia lakukan?
Beliau menjawab: “Lebih utama -menurutku- dia mengikuti hadits tersebut, dan hendaknya seseorang mengandaikan dirinya berada di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal dia telah mendengar hadits itu dari beliau, apakah dia boleh untuk menunda-nunda untuk mengamalkannya? Tidak, demi Allah ... dan setiap orang dibebani sesuai dengan pemahamannya.”
Al-Baihaqi berkata: “Oleh karena itu, beliau –Imam Syafii- banyak mengambil hadits...”
Oleh karena itu, para pengikut Al-Imam Syafii atau yang lainnya tidak mengambil semua yang dikatakan oleh imam mereka. Bahkan mereka meninggalkan banyak dari perkataan imam, ketika mereka melihat bahwa pendapat itu menyelisihi sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Seperti Al-Imam Al-Muzani dan lainnya.
Kesepakatan Para Imam Madzhab di Dalam Mengikuti Dalil dan Meninggalkan Pendapat Yang Menyelisihinya
Sangat bermanfaat bila kita mengetahui perkataan para Imam madzhab yang empat (madzhab hanafi, maliki, syafii dan hambali). Dimana merupakan sikap mereka mendahulukan perkataan Allah dan Rasul-Nya daripada pendapat selain keduanya. Mereka memutuskan perkara dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ketika sebuah permasalahan tidak disebutkan secara nas dalam dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka berijtihad dan beristimbat dari dalil-dalil yang mereka ketahui.
Imam Asy-Syafii dan imam-imam yang lain, tidak pernah sekalipun mengajarkan kepada para pengikut-pengikutnya, untuk taklid (fanatik buta) kepada mereka.
Berikut perkataan para imam tersebut, semoga Allah merahmati mereka:
I. IMAM ABU HANIFAH
1. "Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku." (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)
Demikianlah kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam ini. Dimana mereka mengisyaratkan bahwa mereka tidaklah mengetahui as-sunnah semuanya. Dan Imam Syafii juga telah menyebutkan secara jelas tentang perkara itu –sebagaimana yang akan datang-. Kadang muncul dari mereka pendapat yang menyelisihi as-sunnah yang belum sampai kepada mereka, kemudian mereka memerintahkan kita untuk memegang teguh sunnah tersebut dan menjadikan as-sunnah tersebut sebagai madzhab para imam tersebut.
2. “Tidak boleh seseorang untuk berpegang dengan pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari (dalil) mana kami mengambilnya." (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqa'u fi Fadha'ilits Tsalatsatil A'immatil Fuqaha'i, hal. 145)
Kalau demikian ini wejangan mereka pada orang yang tidak mengetahui dalil mereka, lalu bagaimana dengan perkataan mereka terhadap orang yang mengetahui bahwa dalil menyelisihi pendapat mereka kemudian berfatwa menyelisihi dalil?
3. “Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku."
4. "Sesungguhnya kami adalah manusia, yang mengatakan satu pendapat pada hari ini dan meralatnya di esok hari."
Demikian perkataan beliau, karena banyak beliau membangun pendapatnya di atas qiyas, kemudian muncul pada diri beliau sebuah qiyas yang lebih kuat atau sampai kepada beliau sebuah hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau memegangnya dan meninggalkan pendapatnya yang lalu.
5. "Jika aku mengatakan suatu pendapat yang bertentangan dengan kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku". (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)
II. IMAM MALIK BIN ANAS
1. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah, ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah." (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami', 2/32)
2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali bisa diambil perkataannya dan bisa ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam." (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)
3. Ibnu Wahab berkata: Aku mendengar Malik ditanya tentang menyelah-nyelahi jari di dalam wudhu, lalu dia berkata, “Tidak ada hal itu pada manusia.” Ibnu Wahab berkata: “Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya: “Kami mempunyai sebuah sunnah tentang hal itu.” Maka dia berkata: “Apakah itu?” Aku berkata: “Telah memberitahukan kepada kami Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahi'ah dan Amr bin Al-Harits: dari Yazid bin Amr Al -Mu’afiri: dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al-Mustaurid bin Syidad Al-Qurasyi telah memberikan hadits kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggosok dengan kelingkingnya apa yang ada di antara jari-jari kedua kakinya.” Maka Imam Malik berkata, "Sesungguhnya hadits ini adalah hasan. Dan aku belum mendengarnya melainkan waktu ini.” Kemudian aku mendengarnya, setelah itu dia ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelah-nyelahi jari-jari. (Muqaddimah Al-Jarhu wat Ta'dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)
III. IMAM ASY-SYAFII
1. “Tidak ada seorangpun, kecuali ada satu sunnah Rasulullah yang terlewat dan terluput darinya. Maka kalau aku mengucapkan satu pendapat atau membuat satu kaedah dasar, padahal di tentang hal itu telah ada sabda dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertentangan dengan pendapatku. Maka pendapat yang benar itu adalah yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Itulah pendapatku." (Tarikh Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)
Mengulang yang telah disampaikan di depan... Demikianlah kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan Imam Syafii. Beliau mengisyaratkan bahwa tidak ada seorang pun mengetahui as-sunnah secara keseluruhan. Kadang muncul dari mereka pendapat yang menyelisihi as-sunnah yang belum sampai kepada mereka, kemudian mereka memerintahkan kita untuk memegang teguh sunnah tersebut dan menjadikan as-sunnah tersebut sebagai madzhab para imam tersebut.
2. "Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tidak boleh dia meninggalkannya hanya karena mengikuti perkataan seseorang." (Al-Fulani, hal. 68)
3. “Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku pendapat yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka berpendapatlah dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tinggalkan pendapatku." (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam 3/47/1 dan An-Nawawi dalam Al-Majmu’ 1/63)
4. "Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku." (An-Nawawi di dalam Al-Majmu' 1/63, dan Asy-Sya'rani 10/57)
Kejelasan tentang hal ini akan dibawakan dalam pembahasan berikutnya Insya Allah.
5. "Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadits dan para perawi hadits. Maka jika ada sebuah hadits shahih, maka ajarkanlah kepadaku apapun adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam. Sehingga apabila shahih, aku akan bermadzhab dengannya." (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafii, 8/1)
6. "Setiap masalah yang di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam yang menyelisihi pendapatku, maka aku meralatnya baik ketika hidupku dan setelah aku mati." (Al-Harawi, 47/1)
7. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan riwayat shahih dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kalian taklid kepadaku." (Ibnu Asakir, 15/9/2)
8. “Setiap hadits Nabi yang shahih itu adalah pendapatku, meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.” (Ibnu Abi Hatim hal 93-94)
IMAM AHMAD BIN HAMBAL
1. "Janganlah engkau taklid kepadaku dan jangan pula engkau taklid kepada Malik, Syafii, Auza'i dan Tsauri. Tapi ambillah dari mana mereka mengambil." (Al-Fulani hal 113)
2. "Pendapat Auza'i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat semata, dan ia bagiku adalah sama. Sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits.)" (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami` 2/149)
3. "Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran. " (Ibnul Jauzi hal 182).
Allah berfirman:
"Maka demi Rabbmu, (pada hakekatnya) mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Nabi) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa: 65)
Al-Imam Asy-Syafii menjawab, "Tidak mungkin seseorang itu dibiarkan hingga ia diuji. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, Musa, 'Isa, dan Nabi Muhammad sholawatullah 'alaihim ajma'in. Maka tatkala mereka bersabar, Allah mengokohkan mereka. Tidak boleh seorang pun mengira akan lepas dari kesusahan."
Ujian merupakan suatu keharusan yang menimpa manusia dan tidak ada seorang pun yang dapat mengelak darinya. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan dalam Al-Qur'an tentang keharusannya menguji manusia.
Allah berfirman, "Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (adzab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu." (QS Al-Ankabuut: 1-4).
Allah juga berfirman, "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS Al-Anbiyaa`: 35).
Ketika terjadi adu pendapat, berhati-hati agar tidak menjadi sebab perpecahan, pertentangan dan permusuhan antara sesama saudara sesama muslim. Dan sedikit sekali suatu perdebatan yang bisa lepas dari akibat yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah pemafaan dan keselamatan.
Berkata Al-Imam Asy-Syafii: "Tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja, kecuali aku suka kalau dia menunjuki aku, meluruskanku dan membantuku. ... Dan tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja, kecuali saya tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya." (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/26 dan Aadabu Thalibil 'Ilm hal.60)
Berkata Abu Musa Yunus Ash-Shafadi: Tidak pernah saya melihat seorang yang lebih berakal dari Asy-Syafii. Suatu hari saya mendebatnya dalam suatu masalah, kemudian kami berpisah. Lalu ia menemuiku dan memegang tanganku kemudian berkata: "Wahai Abu Musa, tidakkah salah kita menjadi saudara, walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?"
Imam Asy-Syafii sebagaimana yang telah lalu adalah pengikut madzhab ahlul hadits. Dan perhatikan perkataan beliau, murid beliau dan ulama lain berikut ini:
1. Dari Imam Syafi’i rohimahulloh. beliau berkata: Wajib atas kalian untuk mengikuti Ahli hadits, karena mereka lebih banyak benarnya dibanding yang lain. (Ibnu Hajar menyebutkannya di dalam Tawali Ta’sis.)
2. Dari Imam Syafi’i rohimahulloh. Beliau berkata: Ahli Hadits ada di setiap jaman, seperti sahabat rodhiyallohu 'anhu pada masa mereka. (Sya’roni menyebutkannya di dalam Al-Mizan Al-Kubro hal. 49.)
3. Dari Za’faroni Abul Ali Al-Hasan (-260 H) dari salah satu murid senior Imam Syafi’i rohimahulloh. Beliau berkata: Tidak ada diatas bumi yang lebih utama dari ahli hadits, mereka mengikuti atsar Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam. (Adz-Dzahabi menukil didalam Siyar 12/264)
4. Dari Al-Hafidz Ibnu Katsir, beliau berkata tentang firman Alloh: “Pada hari kami menyeru manusia bersama imam-imam mereka” (QS. Al-Isro’: 17). Beliau menukil dari salaf: “Ini adalah kemulian terbesar untuk ahli hadits. Karena Imam mereka adalah nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/307)
***
Penyebaran Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki
Penyebaran Madzhab Syafii
As-Sam’ani berkata: “karena aku mendengar Abu Al-‘Ula’ Ahmad berkata: Aku mendengar Abu Al-Fadhl Ahmad Al-Maqdisi berkata: Abu Ali ditanya tentang penisbatan madzhab ini. Maka Abu Ali berkata: “Ada seorang di suatu kaum menulis untuk dirinya Asy-Syafi’i! Kemudian penisbatan ini menjadi tsabit /tetap pada kami.”” Demikian dinukil secara ringkas.
Adapun tentang Aqidah Asy'ariyah dan pencetusnya Insya Allah akan disampaikan pada kesempatan yang lain.
(Sumber: Tarikh Ahlul Hadits, Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dahlawi Al-Madany rohimahulloh)
Imam Syafi’i rohimahulloh juga mengambil ilmu dari Imam Malik, kemudian menulis kitab-kitab ahli Iraq, beliau mengambil ahli hadits dan memilihnya bagi dirinya.
Imam Syafi’i rohimahulloh, beliau berkata: “Jika aku melihat seorang ahli hadits, maka seakan-akan aku melihat nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam hidup. (Kitab Syaraf Ashabil Hadits hal. 47 dengan sanad yang bersambung).
Imam Syafi’i rohimahulloh, beliau berkata: “Setiap permasalahan yang tentangnya telah sohih dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam disisi ahli naql (penukil hadits) menyelisihi apa yang aku katakan, maka aku ruju’ darinya baik saat masa hidupku atau saat masa matiku”(Riwayat Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 9/107).
Imam Syafi’i berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh: "Wahai Abu Abdillah (kunyah Imam Ahmad)! Engkau lebih mengetahui hadits daripada aku, maka kalau ada hadits shohih, beritahukanlah kepadaku sehingga aku bisa mencarinya; apa itu berasal dari syam, atau dari kufah atau dari bashroh.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim di dalam Adab Asy-Syafi’i hal. 94-95)
Ibnu Muflih dalam Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyah 3/153: Al-Buwaithi rohimahulloh –murid Asy-Syafi’i rohimahulloh-: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata: Aku telah menulis kitab ini padahal aku belum meneliti ulang di dalamnya, maka semestinya ditemukan di dalamnya kesalahan, karena Alloh berfirman: “Kalau seandainya Al-Qur’an itu dari sisi selain Alloh maka mereka akan menemukan didalamnya perselisihan yang banyak” (An-Nisa: 82). Maka apapun yang kalian temukan dalam kitab-kitabku ini yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah maka aku telah ruju’ darinya.”
Imam Syafi’i, beliau tidak mempunyai kitab tersendiri yang membahas ilmu furu’. Kitab beliau Al-Umm dan Ar-Risalah membahas dalam masalah ushul fikih. Padahal beliau juga menyatakan ada kesalahan dalam tulisannya tersebut, dan Beliau ruju’ ketika masa hidupnya. Sebagaimana dinukil oleh murid beliau Al-Jalil Al-Buwaithi rohimahulloh. Al-Buwaithi berkata: aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Aku telah menulis kitab ini, dan aku belum meneliti ulang apa yang dikandungnya, sudah semestinya didalamnya akan ditemukan kesalahan, karena Alloh berfirman:
“Kalau seandainya ia berasal dari selain Alloh maka mereka akan menemukan didalamnya perselisihan yang banyak” (QS. An-Nisa’: 82)
Maka apa yang kalian temui dalam kitabku ini, perkara-perkara yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah maka sungguh aku telah ruju’ darinya.” (Lihat Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyah 3/154).
(Disadur dari Tarikh Ahlul Hadits, Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dahlawi Al-Madany rohimahulloh)
Bentuknya adalah file berekstensi chm (compiled HTML help file), doc, pdf, atau exe. Silahkan untuk mendownload. Semoga Alloh memberi manfaat dengannya:
Ikhtilaf Al-Hadits (اختلاف الحديث), Kitab Ahkamul Qur'an Lisy Syafii (أحكام القرآن للشافعي), Jima' Al-Ilmi (جماع العلم), Al-Umm (الأم )
Diwan Al-Imam Asy-Syafii (ديوان الإمام الشافعي رحمه الله)
I'tiqad Al-Imam Asy-Syafii (اعتقاد الإمام الشافعي)
2. Kitab-kitab Al-Imam Ismail Al-Muzani rohimahulloh (175-264 H) berbahasa arab
Kitab Muktashor Al-Muzani (مختصر المزني) atau di sini.
Risalah Syarh As-Sunnah (إسماعيل بن يحيى المزني ورسالته شرح السنة) dalam masalah aqidah.
3. Kitab-kitab Ibnul Munzhir rohimahulloh (242-319 H) berbahasa arab
Kitab Al-Ijma' (كتاب الإجماع), Al-Ausath Fis Sunan Wal Ijma' Wal Ikhtilaf (الأوسط في السنن والإجماع والاختلاف), Kitab Tafsir Al-Qur'an (كتاب تفسير القرآن ( تفسير ابن المنذر)
4. Kitab-kitab Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuni rohimahulloh ( -449 H) berbahasa arab
Risalah Fil Aqidah Ahlil Atsar
5. Kitab-kitab Al-Imam Al-Mawardi rohimahulloh (364-450 H) berbahasa arab
Al-Hawi Fi Fiqhi Asy-Syafii (الحاوي في فقه الشافعي), Al-Ahkam Ash-Shulthoniyah (الأحكام السلطانية), Al-Iqna' Fi Fiqh Asy-Syafii (الإقناع في الفقه الشافعي)
6. Kitab-Kitab Karya Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh (-676 H) berbahasa arab
Berisi kitab-kitab: Adab Al-Fatwa Wa Al-Mufti Wa Al-Mustafti, Al-Adzkar, Al-Arbaun An-Nawawiyyah, At-Tibyan Fii Adab Hamalah Al-Qur'an, Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Al-Hajjaj, Bustan Al-'Arifin, Riyadhush Sholihin, Tahdzib Al-Asma' Wal Lughoh, Juz' Fiihi Dzikr I'tiqod As-Salaf Fii Al-Huruf Wa Al-Aswath, Minhaj Ath-Tholibin Wa 'Umdah Al-Muftin Fi Al-Fiqh, Khulashoh Al-Ahkam Fii Muhimmat As-Sunan Wa Qowa'id Al-Islam, Roudhoh Ath-Tholibin Wa 'Umdah Al-Muftin dan lainnya.
7. Kitab-Kitab Karya Al-Hafizh Ibnu Katsir (-774 H) berbahasa arab
Berisi kitab-kitab: Al-Ba'its Al-Hatsits Fii Ikhthishor 'Ulum Al-Hadits, Al-Bidayah Wa An-Nihayah, As-Siroh An-Nabawiyyah, Tuhfah Ath-Tholib Bi Ma'rifah Ahadits Mukhtashor Ibnu Hajib, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Qoshosh Al-Anbiya, dan An-Nihayah Fi Al-Fitan dan Al-Malahim.
Fadhail Al-Qur'an (فضائل القرآن) dalam file pdf.
8. Kitab-Kitab Karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi (bahasa arab)
Berisi kitab-kitab: Al-'Ibar Fi Khobar Man Ghobar, Al-Kabair, Al-Mauqizhoh Fi Ilm Mushtholah Al-Hadits, Tarikh Al-Islam, Tadzkiroh Al-Hufzah, Haqq Al-Jar, Siyar A'lam An-Nubala, Mukhtashor Tarikh Ibnu Ad-Dabitsi, Mizan Al-I'tidal Fii Naqd Ar-Rijal, Al-'Arsy, Mukhtashor Al-'Uluw Li Al-'Ali Al-'Azhim, At-Tamasuk Bis-Sunan Wa At-Tahdzir Min Al-Bida' dan lainnya.
9. Kitab-Kitab Karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani (bahasa arab)
Berisi kitab-kitab: Al-Ishobah Fii Ma'rifah Ash-Shohabah, At-Talkhish Al-Habir Fii Ahaiits Ar-Rofii Al-Kabir, Ad-Diroyah Fii Takhrij Ahadits Al-Hidayah, An-Nukat 'Ala Kitab Ibn Ash-Sholah, Bulughul Marom Min Adilatil Ahkam, Taghliq At-Ta'liq 'Ala Shohih Al-Bukhori, Taqrib At-Tahdzib, Fathul BAri Syarh Shohih Al-Bukhori, Tahdzib At-Tahdzib, Lisan Al-Mizan dan lainnya.
10. Kitab-Kitab Karya Al-Imam As-Suyuthi (bahasa arab)Berisi kitab-kitab: Asror Tartib Al-Qur'an, Tuhfah Al-Abror Bi Nukat Al-Adzkar Li An-Nawawiy, Tanwir Al-Hawalik Syarh Muwatho' Malik, Husn Al-Muhadhoroh Fii Akhbar Mishr Wa Al-Qohiroh, Shifah Shohib Adz-Dzuq As-Salim Wa Maslub Adz-Dzuq Al-Laim, Tobaqot Al-Mufassirin, Lubb Al-Lubab Fii Tahrir Al-Ansab, Lubab An-Nuqul Fii Asbab An-Nuzul, Mathla' Al-Badriyyin Fii Man Yu'ta Ajruhu Marrotain, Mimma Rowahu Al-Asathin Fii 'Adam Al-Maji' Ila As-Salathin, Nuzhah Al-Julasa' Fii Asy-'ar An-Nisa', dan lainnya.
Kitab Al-Amru Bi Al-Ittiba Wa An-Nahyu 'An Al-Ibtida', karya Al-Imam As-Suyuthi (bahasa arab)
Kitab ini membahas tentang bid'ah-bid'ah yang menyelisihi syariat Islam. Begitu juga memuat perkataan para imam, termasuk Imam Asy-Syafii untuk berpegang teguh dengan sunnah.
11. Kitab Tahdzib Al-Kamal karya Al-Hafizh Al-Mizzi (bahasa Arab)
12. Kitab lainnya menyusul Insya Alloh.
Sedang berikut ini kitab-kitab dan buku-buku lain yang bermanfaat. Bisa langsung didownload:
1. Al-Qur’an bersama tafsir-tafsir ulama ahlussunnah (bahasa Arab)
Program Al-Qur'an Al-Karim yang lengkap dengan syakal, dilengkapi dengan Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Jalalain, Tafsir Ad-Durar Al-Mantsur, Tafsir Fathul Qadir, Tafsir Al-Baghawi dan lainnya, disertai dengan Terjemah bahasa Inggris dan bahasa Perancis.
2. Al-Qur’an Digital dengan terjemah Depag RI (bahasa Indonesia)
3. Al-Qur’an dengan terjemahnya berbagai bahasa
Program ini dilengkapi dengan Asbabun Nuzul, dan beberapa terjemah, yaitu: Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Indonesia, dan Rusia.
4. Shohih Al-Bukhori (bahasa Arab)
5. Shohih Muslim (bahasa Arab)
6. Terjemah Shohih Al-Bukhori (bahasa Inggris)
7. Terjemah Shohih Muslim (bahasa Inggris)
8. Kholq Af'al Al-'Ibad karya Imam Al-Bukhari (bahasa Arab)
9. Al-Ibanah Fi Ushul Ad-Diyanah karya Al-Imam Abul Hasan Al-Asy'ari (الإبانة عن أصول الديانة لأبي الحسن الأشعري)
10. Kitab lainnya menyusul Insya Alloh.
Oleh: Al-Imam As-Son'ani
“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberi kalian rezki dari langit dan bumi? Tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia”. (Fathir: 3).
Mereka melarang dari kesyirikan dalam ibadah. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap ummat menyerukan sembahlah hanya kepada Allah dan jauhilah menyembah thaghut.” (An-Nahl: 36).
“Apakah ada pencipta selain Allah?” (Fathir: 3).
“Apakah yang menciptakan sama seperti yang tidak bisa menciptakan?” (An-Nahl: 17).
“Apakah ada keraguan pada Allah yang mengatur langit dan bumi?" (Ibrahim: 10).
Ini adalah Istifham At-Taqrir untuk mereka, sebab mereka menetapkan hal tersebut.
“Dan kalau kamu bertanya pada mereka siapakah yang menciptakan mereka, maka mereka akan menjawab Allah!” (Az-Zukhruf: 87).
Mereka meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala yang Maha Mampu memberikan rezki, yang mampu untuk mengeluarkan yang hidup dari yang mati, yang mati dari yang hidup, dan bahwa Allah semata yang Maha Mengatur segala perkara dari langit ke bumi, dan Dialah semata yang menguasai pendengaran, penglihatan, dan hati.
"Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): Siapakah yang memberi kalian rezki dari langit dan bumi atau siapakah yang mengatur seluruh urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Mengapakah kalian tidak bertaqwa?" (Yunus: 31).
“Sungguh kamu telah mengetahui tidak ada yang menurunkan semua itu kecuali Rabb langit dan bumi sebagai keterangan- keterangan.” (Al-Isra: 102).
“Sesungguhnya saya takut kepada Allah Rabbnya Alam semesta.” (Al-Hasyr: 16).
Dan dia juga berkata:
Dan ia juga berkata:
“Wahai Rabbku tangguhkanlah aku!” (Al-Hijr: 36).
"Apakah yang menciptakan sama seperti yang tidak menciptakan?” (An-Nahl: 17)
dan ucapan mereka:
“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah mereka tidak mampu menciptakan lalat walaupun mereka bersepakat untuk itu.” (Al-Hajj: 73)
Maka orang-orang musyrik menetapkan hal tersebut (Tauhid Ar-Rububiyyah) dan tidak mengingkarinya.
Kemudian, sesungguhnya inti dan pondasi ibadah adalah mentauhidkan Allah, Tauhid yang dikandung oleh kalimatNya yang didakwahkan oleh semua para Rasul, yaitu kalimat Laa Ilaha Illallah. Dan yang diinginkan adalah meyakini maknanya, mengamalkan keharusannya, bukan sekedar mengucapkan dengan lisan.
Dan makna Laa Ilaha Illallah adalah: menunggalkan Allah dalam Ibadah dan Ilahiyah (penghambaan), menafikan dan berlepas diri dari seluruh sembahan selain Allah. Dan orang-orang kafir telah mengetahui makna ini, sebab mereka adalah orang yang berbahasa Arab. Maka mereka berkata:
“Apakah dia (Muhammad) menjadikan sembahan yang banyak menjadi satu sembahan saja? Sungguh ini perkara yang mengherankan.” (Shaad: 5).
(Dinukil dari: Sucikan Aqidah Anda, Penerbit Gema Ilmu, Jogjakarta, bagi yang ingin mendapatkannya secara lengkap, bisa melihatnya di: www.gema-ilmu.com || gemailmujogja@gmail.com)
Beliau menimba ilmu dari ulama yang berada di Shan’a kemudian beliau rihlah (melakukan perjalanan) ke Kota Makkah dan belajar hadits di hadapan para ulama besar yang ada di Makkah dan Madinah.
Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu sehingga beliau mengalahkan teman-teman seangkatannya. Beliau menampakkan kesungguhan dan berhenti ketika ada dalil serta jauh dari taklid dan tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya.
Beliau mendapatkan ujian dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan mendakwahkannya secara terang-terangan pada masa-masa penuh fitnah dari orang yang semasa dengan beliau. Namun Allah menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi beliau dari kejelekan mereka.
Khalifah Al Manshur yang termasuk penguasa Yaman mempercayakan kepada beliau untuk memberikan khutbah di Masjid Jami’ Shan’a. Beliau terus menerus menyebarkan ilmu dengan cara mengajar, memberi fatwa dan mengarang. Beliau tidak pernah takut terhadap celaan orang-orang ketika beliau berada dalam kebenaran dan beliau tidak peduli dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian sebagaimana telah menimpa orang-orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah, beliau lebih mendahulukan keridhaan Allah di atas keridhaan manusia.
Sangat banyak orang-orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang-orang yang khusus maupun masyarakat umum. Mereka mempelajari berbagai kitab-kitab hadits di hadapan beliau. Dan mereka mengamalkan ijtihad-ijtihad beliau dan menampakkannya di hadapan orang banyak.
Beliau memiliki banyak karangan. Di antaranya:
1. Subulus Salam
2. Minhatul Ghaffar
3. Syarhut Tanfih Fi Ulumil Hadits, dan lain-lain.
Beliau memiliki karangan-karangan lain yang ditulis secara terpisah yang seandainya dikumpulkan maka akan menjadi berjilid-jilid.
Beliau memiliki syair yang fasih dan tersusun rapi, yang kebanyakannya tentang pembahasan-pembahasan ilmiah dan bantahan terhadap orang-orang di zaman beliau. Kesimpulannya beliau termasuk seorang ulama yang melakukan pembaharuan terhadap agama.
Beliau wafat pada 3 Sya’ban 1182 H dengan umur 123 tahun. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.
(Diterjemahkan secara bebas dari Muqadimah Kitab Subulus Salam)
