Tampilkan postingan dengan label asy-syafiiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asy-syafiiyah. Tampilkan semua postingan
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ditanya tentang shalat raghaib dan shalat nishfusy sya'ban: Apakah dua shalat itu mempunyai dasar?
Beliau menjawab: Segala puji bagi Allah, dua shalat ini tidak pernah dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak pula oleh salah seorang shahabatnya radhiyallahu 'anhum, juga tidak dilakukan oleh salah seorang dari imam yang empat rahimahumullah, tidak pula diisyaratkan oleh salah seorang dari mereka untuk dilakukan shalat ini. Demikian juga tidak dilakukan oleh seorang ulama yang dijadikan teladan. Namun itu baru muncul pada masa-masa akhir. Melakukan dua shalat itu merupakan bid'ah yang mungkar dan perkara batil yang diada-adakan.
Al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab berkata: Yang dituduh membuat shalat raghaib adalah Abdullah bin Juhdham. Ia mengadakan shalat itu berdasar hadits yang semua perawinya tidak dikenal dan belum pernah ditemui dalam semua kitab yang ada.
Asalnya ialah apa yang diceritakan oleh at-Thurthusyi dalam kitabnya, ia berkata: Abu Muhammad al-Maqdisi mengabarkan kepadaku, katanya:
Jenis ini di antaranya banyak tersebar di sebagian besar negara-negara Islam dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang awam. Mengenai shalat raghaib ini, banyak dibuat hadits-hadits yang bukan bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Melalui hadits-hadits dusta bohong ini, orang meyakini sesuatu keyakinan yang tidak ada pada perkara yang diwajibkan Allah, dan dengan hadits-hadits ini terbawa pula berbagai kerusakan dan berlarut-larut dalam hal itu menimbulkan berbagai perbuatan munkar, lalu bertebaranlah bunga-bunga apinya dan tampaklah keburukannya. Diantaranya adalah shalat raghaib yang dilakukan setiap awal jumat pada bulan rajab.
Ini merupakan sebuah pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf 'alaihis salam ...
Dulu Nabi Yusuf 'alaihis salam menjadi pengatur (semacam perdana mentri) Kerajaan Mesir. Pada waktu itu Mesir pernah mengalami musim paceklik, kemarau yang panjang, kelaparan ada di mana-mana, bahkan sampai di luar wilayah Mesir. Sebagai seorang pengatur kerajaan beliau mengatur bantuan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.
ADA SATU HAL YANG MENARIK DAN MENAKJUBKAN ...
Dulu Nabi Yusuf 'alaihis salam menjadi pengatur (semacam perdana mentri) Kerajaan Mesir. Pada waktu itu Mesir pernah mengalami musim paceklik, kemarau yang panjang, kelaparan ada di mana-mana, bahkan sampai di luar wilayah Mesir. Sebagai seorang pengatur kerajaan beliau mengatur bantuan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.
ADA SATU HAL YANG MENARIK DAN MENAKJUBKAN ...
Ini dikisahkan oleh Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab beliau Qashash Al-Anbiya'. Beliau mengisahkan ...
Ats-Tsa'labi rahimahullah menghikayatkan bahwa Nabi Yusuf 'alaihis salam tidak pernah makan sampai kenyang pada tahun-tahun paceklik, maksudnya agar beliau (bisa merasakan penderitaan mereka dan) tidak lupa dengan orang-orang yang kelaparan. Beliau makan hanya satu kali pada waktu pertengahan siang.
Ats-Tsa'labi rahimahullah juga berkomentar: "Dari situ para raja (jaman dulu) meniru beliau dalam hal itu."
Kemudian Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
Dulu Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu tidak pernah kenyang perutnya pada musim kemarau hingga musim itu telah lewat dan telah diganti dengan musim subur.
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: Seorang arab badui berkata kepada Umar bin Al-Khaththab ketika musim kemarau telah lewat: "Musim kemarau telah pergi darimu dan sungguh engkau orang yang merdeka."
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: Seorang arab badui berkata kepada Umar bin Al-Khaththab ketika musim kemarau telah lewat: "Musim kemarau telah pergi darimu dan sungguh engkau orang yang merdeka."
Begitulah yang dipilih oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, padahal mudah baginya untuk selalu kenyang, karena amanahnya mereka terhadap urusan rakyat khususnya kaum muslimin.
Kita semua ada penguasa, orang tua dan suami adalah penguasa atas istri dan anaknya. Apalagi yang penguasa beneran. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini, dan bisa mengamalkannya walaupun belum bisa sepenuhnya seperti para salaf kita yang shalih. Dan bukan sebaliknya ...
وحكى الثعلبي: أنه كان لا يشبع في تلك السنين، حتى لا ينسى الجيعان، وأنه إنما كان يأكل أكلة واحدة نصف النهار.
قال: فمن ثم اقتدى به الملوك في ذلك.
قلت: و قد كان أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضى الله عنه، لا يشبع بطنه عام الرمادة حتى ذهب الجدب وأتى الخصب.
قال الشافعي: قال رجل من الاعراب لعمر بعد ما ذهب عام الرمادة: لقد انجلت عنك وإنك لابن حرة !
