bahwa Isma'il al-Qadhi, dia berkisah: Satu kali aku masuk menemui Khalifah. Kemudian beliau menyodorkan kepadaku sebuah kitab. Akupun melihatnya. Ternyata kitab itu berisi kumpulan rukhsah-rukhsah (hukum-hukum yang paling ringan) dari pendapa ulama yang keliru.
bahwa Isma'il al-Qadhi, dia berkisah: Satu kali aku masuk menemui Khalifah. Kemudian beliau menyodorkan kepadaku sebuah kitab. Akupun melihatnya. Ternyata kitab itu berisi kumpulan rukhsah-rukhsah (hukum-hukum yang paling ringan) dari pendapa ulama yang keliru.
Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Jarir rahimahullah yang mengkisahkan:
Dahulu Ka'ab Al-Ahbar adalah seorang ulama Yahudi di Negeri Yaman. Dia datang untuk menuju ke Baitul Maqdis (di Syam). Dia melewati kota Madinah pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. 'Umar radhiyallahu 'anhu kemudian menemuinya, dan berkata kepadanya: "Wahai Ka'ab, masuklah ke dalam Islam."
Ka'ab menjawab: "Bukankah kalian membaca dalam kitab suci kalian:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (Al-Jumu'ah: 5)
Sedangkan aku membawa Taurat."
'Umar radhiyallahu 'anhu pun meninggalkannya.
Kemudian Ka'ab keluar dari Kota Madinah lalu dia memasuki Kota Hims. Dia mendengar salah satu penduduk Hims dalam keadaan sedih sedang membaca ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
"Wahai ahli kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an), yang membenarkan Kitab yang ada bersama kalian, sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku." (An-Nisa': 47)
Ternyata Ka’ab sangat terpengaruh dengan ayat ini. Dia pun berkata: "Wahai Rabbku, aku masuk ke dalam Islam." Dia takut terkena ayat ini.
Kemudian Ka'ab kembali ke keluarganya di Negeri Yaman. Lalu dia datang bersama mereka dalam keadaan telah masuk Islam.
(Tafsir Ibnu Katsir: Surat An-Nisa' ayat 47)
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini (Al-Baqarah: 120), "Dalam ayat ini Allah mengancam keras umat Islam dari mengikuti jalan-jalan Yahudi dan Nashrani, setelah mereka mengetahui dari Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang jalan-jalan mereka."
Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Jarir rahimahullah yang mengkisahkan:
Dahulu Ka'ab Al-Ahbar adalah seorang ulama Yahudi di Negeri Yaman. Dia datang untuk menuju ke Baitul Maqdis (di Syam). Dia melewati kota Madinah pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. 'Umar radhiyallahu 'anhu kemudian menemuinya, dan berkata kepadanya: "Wahai Ka'ab, masuklah ke dalam Islam."
Ka'ab menjawab: "Bukankah kalian membaca dalam kitab suci kalian:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (Al-Jumu'ah: 5)
Sedangkan aku membawa Taurat."
'Umar radhiyallahu 'anhu pun meninggalkannya.
Kemudian Ka'ab keluar dari Kota Madinah lalu dia memasuki Kota Hims. Dia mendengar salah satu penduduk Hims dalam keadaan sedih sedang membaca ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
"Wahai ahli kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an), yang membenarkan Kitab yang ada bersama kalian, sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku." (An-Nisa': 47)
Ternyata Ka’ab sangat terpengaruh dengan ayat ini. Dia pun berkata: "Wahai Rabbku, aku masuk ke dalam Islam." Dia takut terkena ayat ini.
Kemudian Ka'ab kembali ke keluarganya di Negeri Yaman. Lalu dia datang bersama mereka dalam keadaan telah masuk Islam.
(Tafsir Ibnu Katsir: Surat An-Nisa' ayat 47)
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini (Al-Baqarah: 120), "Dalam ayat ini Allah mengancam keras umat Islam dari mengikuti jalan-jalan Yahudi dan Nashrani, setelah mereka mengetahui dari Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang jalan-jalan mereka."
Ketika terjadi adu pendapat, berhati-hati agar tidak menjadi sebab perpecahan, pertentangan dan permusuhan antara sesama saudara sesama muslim. Dan sedikit sekali suatu perdebatan yang bisa lepas dari akibat yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah pemafaan dan keselamatan.
Berkata Al-Imam Asy-Syafii: "Tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja, kecuali aku suka kalau dia menunjuki aku, meluruskanku dan membantuku. ... Dan tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja, kecuali saya tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya." (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/26 dan Aadabu Thalibil 'Ilm hal.60)
Berkata Abu Musa Yunus Ash-Shafadi: Tidak pernah saya melihat seorang yang lebih berakal dari Asy-Syafii. Suatu hari saya mendebatnya dalam suatu masalah, kemudian kami berpisah. Lalu ia menemuiku dan memegang tanganku kemudian berkata: "Wahai Abu Musa, tidakkah salah kita menjadi saudara, walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?"
