Janganlah seseorang memandang banyaknya orang bodoh yang terjatuh dalam sikap menyerupai orang-orang kafir dan para ulama yang lalai dan mencocoki mereka. Telah berkata As-Sayyid Al-Jalil Al-Fudhail bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu: “Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk meskipun sedikit orang yang menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan meskipun banyak orang-orang yang binasa.”
As-Suyuthi: Tidak tertipu dengan banyaknya jumlah orang sesat dan tetap mengikuti pengikut kebenaran meski sedikit
Di antara yang dilakukan banyak manusia pada musim dingin, dan mereka menganggap saat itu dilahirkan Isa ‘alaihis salam. Maka semua yang dilakukan pada malam-malam ini termasuk kemungkaran, seperti: menyalakan api, membuat makanan khusus perayaan, membeli lilin dan lainnya[1] untuk perayaan.
As-Suyuthi: Mencari tahu perkara ghaib dari tukang ramal, dukun, para normal, ahli supranatural, dan orang pinter
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an.”
Ini adalah sifat orang-orang beriman yang ittiba (mengikuti) para rasul. Mereka adalah orang-orang yang sempurna pada diri mereka lagi menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan penyatuan antara kemanfaatan yang terbatas (pada diri sendiri) dan kemanfaatan yang mengenai (orang lain).
Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Jarir rahimahullah yang mengkisahkan:
Dahulu Ka'ab Al-Ahbar adalah seorang ulama Yahudi di Negeri Yaman. Dia datang untuk menuju ke Baitul Maqdis (di Syam). Dia melewati kota Madinah pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. 'Umar radhiyallahu 'anhu kemudian menemuinya, dan berkata kepadanya: "Wahai Ka'ab, masuklah ke dalam Islam."
Ka'ab menjawab: "Bukankah kalian membaca dalam kitab suci kalian:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (Al-Jumu'ah: 5)
Sedangkan aku membawa Taurat."
'Umar radhiyallahu 'anhu pun meninggalkannya.
Kemudian Ka'ab keluar dari Kota Madinah lalu dia memasuki Kota Hims. Dia mendengar salah satu penduduk Hims dalam keadaan sedih sedang membaca ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
"Wahai ahli kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an), yang membenarkan Kitab yang ada bersama kalian, sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku." (An-Nisa': 47)
Ternyata Ka’ab sangat terpengaruh dengan ayat ini. Dia pun berkata: "Wahai Rabbku, aku masuk ke dalam Islam." Dia takut terkena ayat ini.
Kemudian Ka'ab kembali ke keluarganya di Negeri Yaman. Lalu dia datang bersama mereka dalam keadaan telah masuk Islam.
(Tafsir Ibnu Katsir: Surat An-Nisa' ayat 47)
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini (Al-Baqarah: 120), "Dalam ayat ini Allah mengancam keras umat Islam dari mengikuti jalan-jalan Yahudi dan Nashrani, setelah mereka mengetahui dari Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang jalan-jalan mereka."
Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Jarir rahimahullah yang mengkisahkan:
Dahulu Ka'ab Al-Ahbar adalah seorang ulama Yahudi di Negeri Yaman. Dia datang untuk menuju ke Baitul Maqdis (di Syam). Dia melewati kota Madinah pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. 'Umar radhiyallahu 'anhu kemudian menemuinya, dan berkata kepadanya: "Wahai Ka'ab, masuklah ke dalam Islam."
Ka'ab menjawab: "Bukankah kalian membaca dalam kitab suci kalian:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (Al-Jumu'ah: 5)
Sedangkan aku membawa Taurat."
'Umar radhiyallahu 'anhu pun meninggalkannya.
Kemudian Ka'ab keluar dari Kota Madinah lalu dia memasuki Kota Hims. Dia mendengar salah satu penduduk Hims dalam keadaan sedih sedang membaca ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
"Wahai ahli kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an), yang membenarkan Kitab yang ada bersama kalian, sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku." (An-Nisa': 47)
Ternyata Ka’ab sangat terpengaruh dengan ayat ini. Dia pun berkata: "Wahai Rabbku, aku masuk ke dalam Islam." Dia takut terkena ayat ini.
Kemudian Ka'ab kembali ke keluarganya di Negeri Yaman. Lalu dia datang bersama mereka dalam keadaan telah masuk Islam.
(Tafsir Ibnu Katsir: Surat An-Nisa' ayat 47)
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini (Al-Baqarah: 120), "Dalam ayat ini Allah mengancam keras umat Islam dari mengikuti jalan-jalan Yahudi dan Nashrani, setelah mereka mengetahui dari Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang jalan-jalan mereka."
