Dalam sebuah atsar shahih mauquf yang diriwayatkan al-Imam al-Baihaqi rahimahullah dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengisahkan ...
Ada seorang rahib ahli ibadah, mengibadahi Allah di biaranya selama enam puluh (60) tahun. Kemudian datanglah seorang wanita dan singgah di biaranya. Si rahib itu kemudian berzina dengan wanita itu selama enam malam. -Wal ’iyadzu billah-
Al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab berkata: Yang dituduh membuat shalat raghaib adalah Abdullah bin Juhdham. Ia mengadakan shalat itu berdasar hadits yang semua perawinya tidak dikenal dan belum pernah ditemui dalam semua kitab yang ada.
Asalnya ialah apa yang diceritakan oleh at-Thurthusyi dalam kitabnya, ia berkata: Abu Muhammad al-Maqdisi mengabarkan kepadaku, katanya:
Jenis ini di antaranya banyak tersebar di sebagian besar negara-negara Islam dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang awam. Mengenai shalat raghaib ini, banyak dibuat hadits-hadits yang bukan bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Melalui hadits-hadits dusta bohong ini, orang meyakini sesuatu keyakinan yang tidak ada pada perkara yang diwajibkan Allah, dan dengan hadits-hadits ini terbawa pula berbagai kerusakan dan berlarut-larut dalam hal itu menimbulkan berbagai perbuatan munkar, lalu bertebaranlah bunga-bunga apinya dan tampaklah keburukannya. Diantaranya adalah shalat raghaib yang dilakukan setiap awal jumat pada bulan rajab.
Kapan saatnya seorang berbicara?
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Lihat al-Adzkar hal. 280)
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.” (Lihat al-Adzkar hal. 284)
Allah telah menguji kaum Fira’un, bangsa Qibthi dengan tahun-tahun musim kemarau, sehingga terjadi gagal penen dan gagalnya hasil peternakan. Dan juga menguji mereka dengan sedikitnya buah-buahan. Tujuan ujian ini agar mereka ingat kepada Allah.
Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan tentang biografi Khalifah al-Mu'tadhidh Billah:
bahwa Isma'il al-Qadhi, dia berkisah: Satu kali aku masuk menemui Khalifah. Kemudian beliau menyodorkan kepadaku sebuah kitab. Akupun melihatnya. Ternyata kitab itu berisi kumpulan rukhsah-rukhsah (hukum-hukum yang paling ringan) dari pendapa ulama yang keliru.
bahwa Isma'il al-Qadhi, dia berkisah: Satu kali aku masuk menemui Khalifah. Kemudian beliau menyodorkan kepadaku sebuah kitab. Akupun melihatnya. Ternyata kitab itu berisi kumpulan rukhsah-rukhsah (hukum-hukum yang paling ringan) dari pendapa ulama yang keliru.
Maka aku berkata: "Penulis kitab ini zindiq (orang ingin merusak islam, tapi menampakkan diri sebagai muslim)."
Ini merupakan sebuah pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf 'alaihis salam ...
Dulu Nabi Yusuf 'alaihis salam menjadi pengatur (semacam perdana mentri) Kerajaan Mesir. Pada waktu itu Mesir pernah mengalami musim paceklik, kemarau yang panjang, kelaparan ada di mana-mana, bahkan sampai di luar wilayah Mesir. Sebagai seorang pengatur kerajaan beliau mengatur bantuan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.
ADA SATU HAL YANG MENARIK DAN MENAKJUBKAN ...
Dulu Nabi Yusuf 'alaihis salam menjadi pengatur (semacam perdana mentri) Kerajaan Mesir. Pada waktu itu Mesir pernah mengalami musim paceklik, kemarau yang panjang, kelaparan ada di mana-mana, bahkan sampai di luar wilayah Mesir. Sebagai seorang pengatur kerajaan beliau mengatur bantuan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.
ADA SATU HAL YANG MENARIK DAN MENAKJUBKAN ...
Ini dikisahkan oleh Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab beliau Qashash Al-Anbiya'. Beliau mengisahkan ...
Ats-Tsa'labi rahimahullah menghikayatkan bahwa Nabi Yusuf 'alaihis salam tidak pernah makan sampai kenyang pada tahun-tahun paceklik, maksudnya agar beliau (bisa merasakan penderitaan mereka dan) tidak lupa dengan orang-orang yang kelaparan. Beliau makan hanya satu kali pada waktu pertengahan siang.
Ats-Tsa'labi rahimahullah juga berkomentar: "Dari situ para raja (jaman dulu) meniru beliau dalam hal itu."
Kemudian Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
Dulu Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu tidak pernah kenyang perutnya pada musim kemarau hingga musim itu telah lewat dan telah diganti dengan musim subur.
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: Seorang arab badui berkata kepada Umar bin Al-Khaththab ketika musim kemarau telah lewat: "Musim kemarau telah pergi darimu dan sungguh engkau orang yang merdeka."
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: Seorang arab badui berkata kepada Umar bin Al-Khaththab ketika musim kemarau telah lewat: "Musim kemarau telah pergi darimu dan sungguh engkau orang yang merdeka."
Begitulah yang dipilih oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, padahal mudah baginya untuk selalu kenyang, karena amanahnya mereka terhadap urusan rakyat khususnya kaum muslimin.
Kita semua ada penguasa, orang tua dan suami adalah penguasa atas istri dan anaknya. Apalagi yang penguasa beneran. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini, dan bisa mengamalkannya walaupun belum bisa sepenuhnya seperti para salaf kita yang shalih. Dan bukan sebaliknya ...
وحكى الثعلبي: أنه كان لا يشبع في تلك السنين، حتى لا ينسى الجيعان، وأنه إنما كان يأكل أكلة واحدة نصف النهار.
قال: فمن ثم اقتدى به الملوك في ذلك.
قلت: و قد كان أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضى الله عنه، لا يشبع بطنه عام الرمادة حتى ذهب الجدب وأتى الخصب.
قال الشافعي: قال رجل من الاعراب لعمر بعد ما ذهب عام الرمادة: لقد انجلت عنك وإنك لابن حرة !
Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir dalam Tafsir beliau (1/373-374):
Intinya: Allah melarang kaum mukminin dari menyerupai (bertasyabbuh) orang-orang kafir baik dalam ucapan atau perbuatan. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Nabi Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah.” Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 104)
As-Suyuthi: Tidak tertipu dengan banyaknya jumlah orang sesat dan tetap mengikuti pengikut kebenaran meski sedikit
Janganlah seseorang memandang banyaknya orang bodoh yang terjatuh dalam sikap menyerupai orang-orang kafir dan para ulama yang lalai dan mencocoki mereka. Telah berkata As-Sayyid Al-Jalil Al-Fudhail bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu: “Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk meskipun sedikit orang yang menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan meskipun banyak orang-orang yang binasa.”
Tidak sepantasnya seorang muslim untuk bertasyabuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam perkara hari-hari raya mereka itu. Juga tidak boleh menyepakati mereka di atas hal itu.
Allah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam: