Berita Rosululloh

Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para shohabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Golongan yang berada di atas petunjuk yang dipegang aku dan para shohabatku.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok dari Abdullah bin Amr. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Takhrij Al-Kasyaf hal. 64: “Sanadnya hasan.”).

Wasiat Rosululloh

Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Aku tinggalkan di antara kalian dua hal, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabulloh dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga mendatangiku di Al-Haudh (telaga Rosululloh di hari kiamat nanti).”

Hadits Shohih, HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok dari Abu Huroiroh, dibawakan dalam Jamiush-Shoghir karya Al-Imam As-Suyuthi)

Madzhab Imam Asy-Syafii

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

“Jika hadits itu shohih, maka itulah madzhabku (pendapatku).”

(Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (1/63) karya Al-Imam An-Nawawi)

Jangan Akuan semata ...

Tidaklah semua orang yang mengaku bermadzhab syafii itu benar mengikuti madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Dan tak berguna akuan yang tidak diiringi dengan kenyataan. Sebagaimana kata seorang penyair:

“Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak membenarkannya.”

Apa Ciri Ahlussunnah?

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (Ar-Rum: 30-32) berkata: “Umat Islam ini berselisih di antara mereka menjadi berbagai aliran, semuanya sesat kecuali satu, yaitu ahlussunnah wal jamaah, yang memegang teguh Kitabullah dan Sunnah Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, dan memegang petunjuk generasi pertama: para shohabat, para tabiin, serta para imam kaum muslimin pada masa dulu atau belakangan.”


Al-Imam As-Suyuthi berkata dalam Husnul Muhadhoroh 1/339:
وقد كنت في مبادئ الطلب قرأت شيئًا في المنطق، ثم ألقى الله كراهته في قلبي، وسمعت ابن الصلاح أفتى بتحريمه فتركته لذلك فعوضني الله تعالى عنه علم الحديث الذي هو أشرف العلوم.
“Dulu pada awal menuntut ilmu, aku mempelajari sedikit ilmu mathiq, kemudian Allah menaruh kebencian terhadapnya di dalam hatiku dan aku mendengar Ibnush Sholah berfatwa tentang haromnya ilmu kalam, oleh karena itu Allah memberikan ganti untukku dengan ilmu hadits yang merupakan ilmu yang paling utama.”

Pelajaran:
1. Ini nasehat dan pelajaran bagi kita untuk meninggalkan dan menjauhi ilmu kalam mantiq.

2. Imam As-Suyuthi mengakui bahwa ilmu hadits adalah ilmu yang paling utama. Dan inilah ciri ahlussunnah -ahlul hadits- sangat memuliakan hadits-hadits Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

3. Abu Amr Ibnu Sholah sebagaimana Imam Syafii dan Imam An-Nawawi mengharamkan ilmu kalam.

4. Dalam perkataan ini, ada teladan dari Imam As-Suyuthi untuk menjalankan fatwa para ulama yang dikenal dengan kesholihan mereka dan dekat kepada ketaqwaan, tidak mengikuti orang-orang bodoh yang tidak jelas landasan hukumnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

5. Memahami Islam yang benar itu berdasar dengan al-qur’an, sunnah (hadits) dengan pemahaman generasi yang diturunkan wahyu padanya, yaitu generasi shohabat, lalu generasi yang mengambil ilmu dari mereka yaitu tabiin, dan generasi setelahnya yang dikenal dengan tabiut-tabiin. Dan kemudian setelahnya para ulama ahlussunnah yang dikenal mengikuti tiga generasi terbaik ini dengan baik, yang disebut salaf.

6. Tidak memahami Islam dengan perasaan dan zhon orang-orang sufi, takwilan orang-orang bodoh dalam agama, dan tidak pula dengan ilmu kalam dan pendapat akal orang-orang rasionalis, seperti di Indonesia ada kelompok sempalan Islam Liberal yang tidak beragama dengan dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Wallahu a’lam.
***

Sabtu, 21 November 2009

Logika Filsafat Setiap Bangsa Berbeda-beda
Sesungguhnya logika filsafat tidak mempunyai ketentuan baku dan tidak hanya terbatas pada satu jenis logika saja. Tidaklah satu bangsa melainkan mempunyai logika yang khusus. Bangsa Persia mempunyai logika tersendiri. Bangsa Hindia mempunyai logika tersendiri. Bangsa Yunan juga demikian. Bangsa Majusi juga demikian dan begitu yang lainnya, masing-masing golongan tidak sepakat pada logika tertentu. Bahkan mereka berselisih dan berbeda dalam masalah logika, yang ini telah diketahui oleh orang-orang yang perhatian dengannya.

Kita alihkan pandangan kepada logika-logika yang berkembang di antara umat Islam. Tidaklah berjalan satu masa melainkan muncul perkara baru (yang diada-adakan) dalam agama, yang mana penganutnya menyangka bahwa itulah yang ditunjukkan oleh logika.

Manusia Sebelum Risalah Nabi Muhammad  Mengandalkan Logika

Ketika bumi mengalami jaman kegelapan (jahiliyyah) dan telah jauh manusia dari masa turunnya wahyu (sebelum diutusnya Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam), ummat manusia berpecah-belah menjadi kelompok-kelompok dan golongan-golongan dalam kebathilan. Sampai-sampai tidak bisa disatukan lagi dan tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah. Mereka ini kehilangan cahaya kenabian dan merujuk kepada akal logika semata, sebagaimana dikatakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika meriwayatkan dari Allah, bahwa Dia berkata:
إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا وَإِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
“Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (lurus di atas tauhid). Kemudian mereka didatangi para setan, lalu mereka dibawa pergi oleh para setan dari agama mereka, sehingga para setan itu mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka. Para setan itu memerintahkan agar mereka menyekutukan dengan-Ku sesuatu yang tidak ada keterangan yang benar tentangnya. Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, kemudian Allah murka kepada mereka baik bangsa arab atau non arab, selain sisa-sisa ahlil kitab (yang berpegang teguh kepada dengan agama mereka yang benar tanpa mengubah-ubah).”

Para penganut logika filsafat semuanya dimurkai Allah kecuali sisa-sisa orang yang berpegang teguh dengan wahyu. Sedang orang-orang yang meninggalkan wahyu dan mendahulukan logika filsafat mereka adalah para pengibadah berhala, salib, api, bintang, matahari, dan bulan, atau orang yang ragu dan bimbang, atau orang-orang atheis dan mengingkari adanya pencipta alam ini. Mereka ini dengan hal itu memperoleh murka Allah dan Allah berpaling dari mereka.

Cahaya Risalah pada Generasi Awal Ummat Islam
Kemudian Allah menerbitkan cahaya risalah dalam kegelapan itu sebagai lentera yang terang. Dengan risalah itu, Allah menganugerahi penduduk bumi kenikmatan pada akal-logika, hati-hati, kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat mereka, yang tidak mungkin dibalas dengan rasa syukur mereka. Sehingga mereka bisa melihat dengan cahaya wahyu petunjuk yang tidak bisa dilihat dengan akal-logika mereka. Mereka melihat dengan cahaya risalah petunjuk yang tidak bisa mereka lihat dengan ro’yu-ro’yu (pikiran-pikiran) mereka.

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:
{اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ}
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).

Allah juga berfirman:
{الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ}
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Allah juga berfirman:
{وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الْأِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُوراً نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا}
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Asy-Syuro: 52)

Allah juga berfirman:
{أَوَمَنْ كَانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا}
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? (Al-An’am: 122)

Generasi pertama ummat Islam telah lewat dalam petunjuk cahaya ini, tanpa dipadamkan oleh badai hawa nafsu dan tercampur dengan kegelapan logika pikiran. Merekapun mewasiatkan orang-orang yang sesudah mereka agar tidak berpisah dengan cahaya risalah yang diperoleh dari mereka dan agar tidak keluar dari jalan mereka.

Firqoh-Firqoh Sesat Yang Muncul Karena Salah Memahami Wahyu

Ketika pada akhir masa generasi pertama muncullah firqoh-firqoh sesat syiah, khowarij, al-qodariyah, dan al-murjiah. Mereka ini jauh dari cahaya yang digunakan oleh generasi awal ummat ini. Namun, meskipun demikian, mereka ini tidak meninggalkan cahaya risalah itu sama sekali, bahkan mereka masih mengagungkan nas-nas al-qur’an dan as-sunnah, dan beristidlal dengannya. Keduanya masih didahulukan daripada logika dan hasil pikiran.

Mereka tidak membiarkan seorangpun dari mereka ini mempunyai logika yang menentang nas-nas wahyu. Namun kesesatan mereka itu berasal pemahaman yang jelek terhadap wahyu dan tidak mengikuti petunjuk para shohabat dan kibar tabiin sebelum mereka. Para shohabat dan kibar tabiin di setiap wilayah yang mendapati mereka ini memperingatkan tentang mereka ini dan berlepas diri dari mereka ini.

Mulai Didahulukan Logika daripada Wahyu

Namun ketika telah bertambah pengikut jahmiyyah pada akhir masa tabiin, merekalah yang pertama kali menentang wahyu dengan logika. Namun mereka masih sedikit awalnya dalam keadaan terhina di sisi para imam kaum muslimin.

Orang jahmiyyah yang pertama dan guru mereka adalah Al-Ja’d bin Dirham. Dia menyembunyikan sesuatu kepada manusia karena dia adalah pengajar dan syaikhnya Marwan bin Muhammad Al-Himar (kholifah terakhir bani umayyah). Dengan ‘berkah’ gurunya ini kerajaan dan kekhalifahan Bani Umayyah sirna. Al-Ja’d menolak sifat-sifat Allah, seperti Al-Kalam dan Al-Mahabbah dan Al-Khullah.
Dan akhirnya Al-Ja’d bin Dirham ini dihukum salib oleh Gubernur Iraq waktu itu yang bernama Kholid bin Abdillah Al-Qisri.

Kemudian bid’ah itu padam. Dan kaum muslimin waktu itu satu prinsip bahwa Allah di atas langit di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Allah mempunyai sifat-sifat sempurna dan mulia. Allah mempunyai sifat al-kalam, dan mengajak bicara nabi Musa. Allah juga menampakkan kepada sebuah gunung, sehingga gunung itu hancur ...

Logika –Ilmu Kalam- Menjadi Madzhab Negara –Kekhalifahan-

Hingga sampailah pada awal abad ke-3 Hijriah, ketika kaum muslimin dipimpin khalifah Abdullah Al-Ma`mun (dari Bani ‘Abbasiyyah). Dulunya dia mencintai berbagai bidang ilmu dan majelisnya selalu diramaikan oleh para ahli kalam dari berbagai disiplin ilmu, hingga akhirnya terpengaruh dengan sebagian mereka, dan terkondisikan untuk suka dengan hal-hal yang berbau akal-logika.

Dia pun akhirnya memerintahkan penerjemahan buku-buku sesat Yunani, dan mendatangkan para penerjemah dari berbagai negeri. Hingga terciptalah terjemahan dalam bahasa Arab.

Akibatnya kaum muslimin disibukkan dengan (membaca) buku-buku sesat tersebut. Sedangkan Al-Ma`mun sendiri, yang memprakarsai program tersebut, semakin larut dan terbawa buku-buku sesat itu hingga majelisnya pun didominasi sekumpulan Jahmiyyah (yang banyak mengandalkan akal dalam memahami agama) yang justru pada masa pemerintahan bapaknya Harun Ar-Rosyid, mereka ini merupakan buronan. Ada yang tertangkap kemudian dipenjara, dan ada pula yang dibunuh.

Orang-orang inilah yang meracuni dan membisikkan bid’ah Jahmiyyah ke telinga dan hati Al-Ma`mun, hingga dia menerima bid’ah itu dan menganggapnya sebagai kebaikan. Bahkan dia ajak manusia kepada bid’ah tersebut dan menghukum siapa saja yang tidak menyambut ajakannya.
Kemudian tak berselang lama, dia digantikan oleh Al-Mu’tashim. Dialah yang melanjutkan perbuatan Al-Makmun, bahkan dialah yang menyiksa Imam Ahmad karena tidak mau mengikuti pemikiran ini. ...
Begitulah seterusnya sampai dilanjutkan oleh Al-Watsiq....
(Ash-Shawa’iq Al-Mursalah, 1/148)
Begitulah ilmu kalam yang awalnya ada pada ummat Islam secara sembunyi-sembunyi, kemudian dilariskan oleh para tokoh penyesat dan penguasa, sehingga sampai sekarang sudah dianggap sebagai perkara yang tidak tabu lagi. Bahkan secara terang-terangan dijarkan di kalangan kaum muslimin, yang mengaku sebagai pendidikan tinggi agama Islam. Padahal ilmu kalam bukanlah dari Islam.

Para pembaca, dari keterangan di atas dapatlah diambil pelajaran yang sangat berharga bahwa buku-buku sesat sangat berbahaya bagi umat, merusak agama mereka, dan dapat menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Sampai-sampai Al-Makmun yang ketika itu menjabat khalifah dan sejak kecil hafal Al-Qur`an menjadi sesat akibat buku-buku sesat Yunani Kuno dan buku-buku sesat karya tokoh-tokoh Jahmiyyah di masanya.

Beberapa kesimpulan:
1. Ilmu kalam bukanlah berasal dari agama Islam.
2. Hati-hati dari buku ilmu kalam, ia menjadi efektif yang digunakan musuh-musuh Islam untuk merusak agama umat dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran.
3. Hati-hati dari buku-buku sesat secara umum, karena akan merusak agama umat Islam.
4. Kembali memahami agama dengan pemahaman generasi awal yang terbaik (shohabat, tabiin, dan tabiut-tabiin), serta pemahaman para ulama ahlussunnah wal jamaah –yang berpegang dengan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi awal terbaik ummat Islam.

***

Selasa, 10 November 2009

Ilmu kalam yang mengandalkan logika daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu berasal dari luar Islam. Kemudian masuk tersebar ke kalangan kaum muslimin dengan perantaraan masuknya terjemahan buku-buku filsafat Yunani pada masa Al-Ma’mun dari Pulau Ciprus yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur waktu itu. Sehingga dari itu tersebarlah ilmu kalam, apalagi ilmu kalam dipegang sebagai madzhab negara sejak masa Kholifah Al-Ma’mun sampai Al-Watsiq, bahkan orang-orang dipaksa dengan hal itu. Bila tidak mereka dibunuh atau dipenjara atau dihukum dengan hukuman lainnya.


Imam Adz-Dzahabi Asy-Syafii tentang Penyebaran Ilmu Kalam:
Beliau berkata di dalam As-Siyar (11/236):
كان الناس أمة واحدة، ودينهم قائما في خلافة أبي بكر وعمر.
فلما استشهد قفل باب الفتنة عمر رضي الله عنه، وانكسر الباب، قام رؤوس الشر على الشهيد عثمان حتى ذبح صبرا.
وتفرقت الكلمة وتمت وقعة الجمل، ثم وقعة صفين.
فظهرت الخوارج، وكفرت سادة الصحابة، ثم ظهرت الروافض والنواصب.
وفي آخر زمن الصحابة ظهرت القدرية، ثم ظهرت المعتزلة بالبصرة، والجهمية والمجسمة بخراسان في أثناء عصر التابعين مع ظهور السنة وأهلها إلى بعد المئتين، فظهر المأمون الخليفة - وكان ذكيا متكلما، له نظر في المعقول - فاستجلب كتب الاوائل، وعرب حكمة اليونان، وقام في ذلك وقعد، وخب ووضع، ورفعت الجهمية والمعتزلة رؤوسها، بل والشيعة، فإنه كان كذلك.
وآل به الحال إلى أن حمل الامة على القول بخلق القرآن، وامتحن العلماء، فلم يمهل.
وهلك لعامه، وخلى بعده شرا وبلاء في الدين.
فإن الامة ما زالت على أن القرآن العظيم كلام الله تعالى ووحيه وتنزيله، لا يعرفون غير ذلك، حتى نبغ لهم القول بأنه كلام الله مخلوق مجعول، وأنه إنما يضاف إلى الله تعالى إضافة تشريف، كبيت الله، وناقة الله.
فأنكر ذلك العلماء.
ولم تكن الجمهية يظهرون في دولة المهدي والرشيد والامين فلما ولي المأمون، كان منهم، وأظهر المقالة.
روى أحمد بن إبراهيم الدورقي، عن محمد بن نوح: أن الرشيد، قال: بلغني أن بشر بن غياث المريسي، يقول: القرآن مخلوق، فلله علي إن أظفرني به، لاقتلنه.
قال الدورقي: وكان متواريا أيام الرشيد فلما مات الرشيد، ظهر، ودعا إلى الضلالة.

“Dulu kaum muslimin satu padu, agama mereka tegak di masa kekhalifahan Abu Bakr dan Umar. Namun ketika Umar meninggal secara syahid (karena dibunuh), terbukalah pintu fitnah setelahnya. Bangkitlah para tokoh kejelekan yang memberontak kepada Utsman bin Affan sampai membunuh beliau tanpa perlawanan.

Kemudian terpecah-belah persatuan kaum muslimin, dan terjadi Perang Al-Jamal dan Perang Shiffin. Muncullah Khowarij yang mengkafirkan para tokoh shohabat. Kemudian muncullah Syiah Rofidhoh dan Nashibah.

Pada akhir masa shohabat muncullah Al-Qodariyyah, kemudian muncullah Al-Mu’tazilah di Bashroh, dan Al-Jahmiyyah serta Al-Mujassimah di Khurosan pada pertengahan masa tabiin. Meskipun begitu, sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang yang memegangnya tetap nampak jelas sampai setelah tahun 200-an.

Kemudian muncul Kholifah Al-Makmun. Dia dulunya adalah orang yang cerdas dan ahli kalam. Dia mempunyai perhatian dengan masalah logika. Kemudian dia mendatangkan buku-buku orang-orang dulu dan menerjemahkan filsafat manthiq Yunani. Dia semakin tenggelam dan larut dalam hal itu. sehingga Al-Jahmiyyah dan Al-Mu’tazilah menampakkan kepalanya, bahkan syiah juga demikian.

Bahkan keadaannya berubah, sampai Al-Makmun memaksa ummat Islam untuk berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dia juga menguji para ulama dan tidak memberi tenggang.

Kemudian Al-Makmun meninggal pada tahun itu, tetapi dia meninggalkan kepada orang yang setelahnya kejelekan dan musibah dalam perkara agama. Karena dulunya ummat Islam senantiasa di atas prinsip bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, wahyu-Nya dan diturunkan oleh Allah. Mereka tidak mengetahui selain hal itu, hingga Al-Makmun menyebarkan kepada mereka pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk yang dibuat dan mengatakan bahwa penisbatan Al-Qur’an sebagai kalam (ucapan) Allah itu hanyalah sebagai bentuk pemuliaan makhluk, seperti baitullah (Rumah Allah) dan untanya Allah (unta mukjizat Nabi Sholih ‘alaihis salam). Kemudian para ulama mengingkari hal itu.

Padahal sebelumnya firqoh Al-Jahmiyyah tidak nampak di masa kekuasaan Al-Mahdi, Harun Ar-Rosyid dan Al-Amin. Namun ketika Al-Makmun berkuasa, dia menjadi golongan mereka dan menampakkan pendapat Al-Jahmiyyah.

Bahkan Ahmad bin Ibrohim Ad-Dauroqi meriwayatkan dari Muhammad bin Nuh: bahwa Harun Ar-Rosyid berkata: “Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr bin Ghoyats Al-Marisi (tokoh jahmiyyah) berkata bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Demi Allah, wajib aku jika bisa menangkapnya untuk membunuhnya.”

Ad-Dauroqi berkata: Bisyr Al-Marisi ini sembunyi-sembunyi pada masa kekuasaan Harun Ar-Rosyid, ketika Harun Ar-Rosyid meninggal, dia muncul dan menyerukan kesesatannya.”
Selesai nukilan dari Al-Imam Adz-Dzahabi rohimahulloh.


Manusia tentunya ingin hidup bahagia, di dunia dan akhirat ini. Lalu bagaimana dia akan bisa menggapainya, padahal sebagaimana pada artikel yang telah lalu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
(( الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ))
“Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.” (HR. Muslim)

Dan telah lewat pada kita tentang Kisah Al-Hafizh Ibnu Hajar salah seorang ulama syafiiyah dengan seorang yahudi. Dimana beliau penuh dengan kenikmatan dan kesenangan dunia sedangkan yahudi itu berada dalam kesusahan dan penderitaan.

Intinya dengan mengikuti al-qur’an dan sunnah, niscaya manusia akan bisa menggapai kebahagiaan. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah:
(فَإِمّا يَأْتِيَنّكُم مّنّي هُدًى فَمَنِ اتّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلّ وَلاَ يَشْقَىَ * وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمَىَ)
“Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha: 123-124)

Oleh karena itu, kita selama-lamanya tidak akan mendapati seorang yang paling enak pikirannya, lapang dadanya, dan sangat tenang dibanding seorang mukmin. Meskipun mukmin itu adalah seorang yang fakir miskin. Seorang mukmin adalah orang yang sangat lapang dadanya dan paling tenang.
Orang yang mengerjakan amal shalih, dari orang beriman, akan diberi kehidupan yang baik oleh Allah. Apakah kehidupan yang baik itu?

Kehidupan yang baik adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, hingga walaupun seorang dalam keadaan sangat kesusahan, namun dia dalam keadaan tenang hatinya dan lapang dadanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ))
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman. Sungguh segala urusannya baik. Dan hal itu tidak diperoleh seseorang kecuali oleh orang yang beriman. Jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur, itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Orang kafir bila ditimpa kesusahan, apakah dia bersabar? Tidak. Dia bersedih dan dunia terasa sempit atasnya. Bahkan mungkin dia akan bunuh diri. Tetapi seorang mukmin bersabar dan mendapati kenikmatan sabar dengan lapang dada dan tenang. Oleh karena itu terwujud kehidupan yang baik di dalam hatinya dan jiwanya.

Seorang mukmin berada dalam kebaikan, bagaimanapun keadaannya. Dialah orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

Sedangkan orang kafir dalam keburukan. Dialah orang yang merugi di dunia dan akhirat. Orang-orang kafir itu melalaikan agama Allah. Mereka sombong dalam kemewahan dan kesenanganan dunia mereka.
Namun mereka meskipun membangun gedung-gedung megah dan gemerlap, sesungguhnya mereka hakekatnya berada dalam neraka jahim.

Adapun orang-orang yang beriman mereka merasakan kenikmatan dengan bermunajat kepada Allah dan mengingat-Nya. Mereka menerima takdir Allah. Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka bersabar. Jika mereka ditimpa kesenangan, mereka bersyukur. Mereka dalam keadaan yang paling enak, berbeda dengan para ahli dunia. Dimana jika mereka diberi nikmat oleh Allah mereka merasa ridha, sedang bila mereka tidak diberi nikmat oleh Allah, mereka marah dan murka.
(Sumber Kitab Al-‘Ilmi dan lainnya)

Selasa, 03 November 2009

Sebagian ahli tarikh (sejarah) menceritakan:
Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.
Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya.

Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar: “Sesungguhnya Nabi kalian berkata:
(( الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ))
Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. (HR. Muslim)
Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku -yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.”

Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”

Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.

Subhanallah, sangat menakjubkan hadits Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kisah ini...

Bahan Renungan:
Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.”
مَعْنَاهُ أَنَّ كُلّ مُؤْمِن مَسْجُون مَمْنُوع فِي الدُّنْيَا مِنْ الشَّهَوَات الْمُحَرَّمَة وَالْمَكْرُوهَة ، مُكَلَّف بِفِعْلِ الطَّاعَات الشَّاقَّة ، فَإِذَا مَاتَ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا ، وَانْقَلَبَ إِلَى مَا أَعَدَّ اللَّه تَعَالَى لَهُ مِنْ النَّعِيم الدَّائِم ، وَالرَّاحَة الْخَالِصَة مِنْ النُّقْصَان . وَأَمَّا الْكَافِر فَإِنَّمَا لَهُ مِنْ ذَلِكَ مَا حَصَّلَ فِي الدُّنْيَا مَعَ قِلَّته وَتَكْدِيره بِالْمُنَغِّصَاتِ ، فَإِذَا مَاتَ صَارَ إِلَى الْعَذَاب الدَّائِم ، وَشَقَاء الْأَبَد .
“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.
Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”
(Syarah Shohih Muslim No. 5256)

Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini.
(Sumber: Syarh Shohih Muslim dan lainnya)

***

Pada artikel yang lalu telah disebutkan bahwa aliran sufi itu dimulai dari sikap berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia, kemudian membuka pintu bid’ah gagasan bahwa ketuhanan bersemayam dalam makhluk (al-hulul), sampai gagasan bahwa semua makhluk adalah satu hakikat, yang merupakan Alloh (wihdatul wujud). Dari  percampuran semua pemikiran ini lahir aliran sufi, yang muncul dalam Islam. Aliran ini kemudian semakin jauh dari petunjuk Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang murni. Sampai para pengikut aliran sufi menyebut semua yang mengikuti Al-Qur’an dan  Sunnah sebagai  ‘ahli syari'at’ dan ‘ahli tekstual’ (ahlul-dhaahir), sedangkan mereka menyebut  diri mereka  sebagai ‘ahli hakikat’ dan ‘orang yang punya pengetahuan tersembunyi’ (ahlul-batin).

Mungkin untuk membagi pemikiran ideologi (madzhab) sufiyah ekstrim kepada tiga 3 kategori, yaitu:

(1) kategori pertama: Pengikut sekolah isyroqi filosofi. Mereka adalah orang yang memberikan perhatian terbesar tehadap gagasan filosof melebihi dari yang lainnya  bersamaan dengan sikap menjauhi kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan Isyroqi  (penerangan) adalah penerangan jiwa yang diterangi dengan cahaya, dan merupakan hasil dari latihan jiwa, pelatihan ruh dan menghukum badan untuk membersihkan dan menyucikan  jiwa.

Ini mungkin merupakan ciri semua orang sufi. Namun orang sufi kategori (pertama) ini berhenti pada batasan ini saja, dan tidak terjatuh pada pendapat yang menyatakan Alloh bersemayam didalam ciptaan-Nya (al-hulul), atau yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu adalah Alloh (wihdatul wujud). Namun jalan mereka ini bertentangan dengan  ajaran  Islam dan diambil dari agama-agama yang menyimpang seperti ajaran budha dan semisalnya.

(2)  ideologi kedua adalah ideologi orang yang meyakini hulul, yang mengatakan bahwa Alloh bersemayam  dan merupakan perwujudan ingkarnasi  dari kejadian manusia, Maha tinggi Alloh dari yang mereka sifatkan. Seruan ini dinyatakan secara terang-terangan oleh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj yang dicap kafir oleh ulama.  Mereka para ulama memerintahkan untuk mengeksekusi dan menyalibnya pada  tahun 309 H. 
Al-Hallaj berkata:
“Maha suci Allah yang nasuut-Nya telah menampakkan
          rahasia cahaya laahuut (ilahiyah)-Nya,
Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya
          dalam wujud orang yang makan dan minum,
Sehingga ciptaan-Nya bisa melihat-Nya secara jelas
          seperti pandangan mata dengan pandangan mata” (Ath Thawaasin hal. 129)


Dia juga berkata:
“Saya adalah seorang yang mencintai dan seseorang yang dicintai adalah aku,
          kami adalah dua jiwa yang mendiami pada badan tunggal.
Maka ketika kamu melihatku, kamu melihat Dia,
          dan ketika kamu melihat Dia, kamu melihat kami berdua.”

Al-Hallaj ini adalah penganut pemahaman hulul. Dia mempercayai tentang  dualisme  alam ketuhanan (ilahiyah), dan bahwa  Ilah (tuhan) itu mempunyai alam ketuhanan (lahuut) dan alam manusia (nasuut). Ketuhanan bersemayam di dalam manusia, sehingga jiwa manusia adalah hakekat alam ketuhanan, sedang badannya adalah bentuk alam manusianya (nasuutnya).

Meskipun dia dibunuh karena kezindiqannya (kemurtadan munafik) dan beberapa kalangan sufi menyatakan diri mereka terbebas dari dia, namun masih ada kalangan orang sufi yang menganggapnya sebagai seorang sufi, membenarkan keyakinannya, dan mengambil pendapatnya. Diantara mereka adalah Abdul-'Abbas bin 'Ata Al-Baghdadiy, Muhammad bin Khafif Ash-Shirazi dan Ibrahim An-Nasrabadzi, sebagaimana dinukilkan Al-Khatib Al-Baghdadiy.

(3)  ideologi ketiga adalah wihdatul wujud, yaitu bahwa semua wujud adalah hakekat tunggal, dan bahwa segala sesuatu yang kami lihat hanyalah sisi keberadaan Alloh.  Pentolan yang menyatakan keyakinan ini adalah Ibnu 'Arobi Al-Hatimi At-Thoi, yang dikubur di Damaskus, mati tahun 638 H. Dia sendiri mengatakan keyakinannya ini di Kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah:
Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
          Duhai siapa yang dibebani (ibadah)?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
          Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani?

Dia juga berkata di Al-Futuhat:
"Orang-orang yang mengibadahi  anak sapi, mereka ini tidak mengibadahi kecuali Alloh.”

Ibn ‘Arabi ini disebut sebagai Al-‘Arif billaah (orang yang mempunyai ma’rifat tentang Alloh) oleh  Orang-orang sufi. Dia juga disebut Al-Qutub Al-Akbar’ (poros terbesar), Al-Misk Al-Azhfar (Misik terharum), Al-Kibrit Al-Ahmar (belerang merah), padahal dia menyerukan wihdatul wujud dan perkataan celaka yang lain. Dia memuji Fir'aun dan menyatakan bahwa Fir’aun meninggal di atas keimanan! Dia juga mencela Nabi Harun yang mengingkari kaumnya ketika mereka menyembah patung anak sapi, yang ini jelas menyelisihi nas Al-Qur’an. Dia juga berpendapat hanya kaum nasrani (Kristen) saja yang kafir, karena mereka mengkhususkan uluhiyah (pengibahan) hanya kepada Nabi Isa, namun jika mereka menjadikannya umum (mengibadahi semua makhluk) mereka tidak kafir.

Meskipun sangat jelas kesesatan Ibnu ‘Arobi dan pernyataan para ulama bahwa dia kafir, namun orang-orang sufi senantiasa mensucikannya.

Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi tadi, juga berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !” (Fushushul Hikam).
Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah orang-orang sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!

Ibnu ‘Arabi juga berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al Futuhat Al Makkiyyah).

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56).
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93).

Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zorodoaster, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.

Padahal Allah Ta’ala berfirman :
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran : 85)

Tidakkah orang-orang yang terpengaruh dengan tasawwuf sadar akan kesesatan sufiyah yang diucapkan para tokoh sufiyah ini?! Tidakkah mereka mengambil pelajaran??!


***




Sabtu, 17 Oktober 2009

Mengapa disebut dengan nama itu?  Kata sufi diambil dari sebuah kata yunani 'Sophia' yang bermakna kebijaksanaan. Dikatakan juga bahwa sufi adalah sebuah kata yang dihubungan dengan memakai pakaian wol (shuf). Dan perkataan ini adalah yang paling mendekati karena pakaian wol merupakan tanda kezuhudan mereka (yaitu melepaskan diri dan menjauh dari kehidupan dunia). Dikatakan bahwa hal ini dilakukan untuk meneladani 'Isa bin Maryam 'alaihis-salaam.

Muhammad bin Siriin [seorang tabiin terkenal yang meninggal pada tahun 110 H] disampaikan kepada dia bahwa orang tertentu memakai pakaian wol untuk meneladani 'Isa bin Maryam, maka dia berkata:
إن قوما يتخيرون لباس الصوف يقولون إنهم يتشبهون بالمسيح بن مريم ، وهدي نبينا أحب إلينا وكان صلى الله عليه وسلم يلبس القطن وغيره ،
“Ada satu kaum yang memilih dan mengutamakan memakai pakaian wol, mengaku bahwa mereka ingin meneladani Al-Masih bin Maryam. Tetapi jalan Nabi kita lebih kita cintai, dan  Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakai katun dan pakaian lain.”

Kemunculan pertama Aliran sufi
Berhubungan dengan kemunculan pertama kali aliran sufi, kata ‘sufi’ tidak dikenal pada jaman shahabat, lebih-lebih kata tersebut tidak diketahui dalam tiga generasi pertama yang terbaik. Istilah tersebut dikenal setelah penghujung tiga generasi pertama.
Kemunculan pertama aliran sufi di Basrah, 'Iraq. Dimana beberapa orang ingin berlebih-lebihan dalam ibadah dan dalam menghindari kehidupan keduniaan, sebagaimana tidak ditemukan di tempat lain.

Bagaimana Aliran sufi lahir?
Ketika aliran sufi pertama muncul tidaklah ada ciri khusus mereka yang sangat jelas, tetapi hanya sebuah masalah mulai berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia, dan terus-menerus dalam dzikir (mengingat Alloh) dan membiasakan dengan rasa khouf (takut) yang berlebihan dalam mengingat Alloh yang kadang mengakibatkan seseorang pingsan atau mati ketika mendengar sebuah ayat yang menyebutkan sebuah ancaman adzab/siksa. Hal ini terlihat dalam kisah Zurarah bin Aufa  -hakim Basrah- yang dibacakan: “Ketika sangkakala ditiup.” [Al-Mudatsir 73:8] dalam sholat  Fajr dan dia jatuh meninggal. Kisah yang serupa pada Abu Jahr Al-A’ma, ketika Sholih Al-Murri membacakan qur’an kepada dia dan dia jatuh mati. Selain dari mereka ada yang pingsan ketika mendengar  Al-Qur’an.

Hal seperti ini tidak ditemukan di antara para sahabat, sehingga sekelompok  sahabat dan tabiin seperti Asma' binti Abi Bakr dan 'Abdulloh bin Az-Zubair dan Muhammad bin Sirin mengkritik hal tersebut sebab mereka melihat bahwa hal tersebut merupakan bid’ah dan bertentangan dari apa yang mereka ketahui dari cara Sahabat.

Ibnul Jauzi berkata:
“Aliran sufi adalah suatu jalan orang, yang dimulai dari mengabaikan seluruh kehidupan dunia, kemudian mereka yang mengikat diri pada jalan tersebut, mereka terjebak dalam memperbolehkan menyanyi dan menari. Oleh karena itu selanjutnya para pencari akhirat dari orang awam menjadi tertarik kepada mereka karena mereka meninggalkan kehidupan dunia yang mereka wujudkan, dan  pencari akhirat ada juga yang tertarik kepada mereka karena kehidupan yang mudah dan  permainan.” [Talbis Iblis hal.161]

Berikut ini akan dibawakan tentang alasan kemunculan aliran sufi dan  sumber-sumber perkembangannya:
1. sumber pertama: beberapa ahli ibadah di antara muslimin memalingkan semua perhatiannya untuk meninggalkan kehidupan dunia dan mengkhususkan diri mereka untuk ibadah. Sumber pertama ini muncul pada zaman Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam ketika beberapa sahabat memutuskan untuk menghabiskan malam untuk bersungguh-sungguh dalam sholat dan meninggalkan tidur. Yang lain memutuskan untuk puasa setiap hari tanpa berbuka. Yang lain memutuskan untuk tidak menikah dengan wanita. Sehingga ketika berita itu sampai pada Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam dia berkata:
“Apa yang terjadi dengan orang yang mengatakan demikian dan demikian. Saya berpuasa tetapi saya berbuka, saya sholat malam tapi saya juga tidur, dan saya menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Lebih lagi bid’ah kehidupan seperti rohib (rohbaniyah) dilarang dalam  Al-Qur’an. Alloh berkata:
وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا
“...rohbaniyah yang mereka ada-adakan untuk diri mereka...” [Al-Hadid: 27].

Namun ketika  Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal, dan banyak orang masuk ke dalam Islam dari  agama-agama sebelumnya. Kemudian sekelompok orang berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia dan hal itu dibiarkan tumbuh dan aliran sufi menemukan sebuah tempat di hati-hati orang-orang ini, karena hal itu datang pada tanah yang subur untuk ditanami.

2. Masalah kedua yang menarik jiwa orang-orang adalah sesuatu yang muncul di antara muslimin dalam bentuk dua ideologi. Satu diantaranya adalah pemahaman filsafat, yang lain adalah agama-agama sebelumnya.

Yang pertama, merupakan sisi pandang dari sekolah filosof yang menyatakan bahwa ma’rifah (pengetahuan) diperoleh dalam jiwa dengan latihan jiwa dan pensucian jiwa.

Ideologi yang kedua, berupa kepercayaan bahwa ketuhanan bersemayam di dalam jiwa manusia, atau keyakinan bahwa ketuhanan hasil reinkarnasi sifat kemanusiaan. Gagasan ini muncul untuk mendapat tempat di antara sekte-sekte bathil yang menisbatkan diri mereka kepada Islam pada masa-masa awal, ketika muslimin bercampur dengan kristen. Gagasan ini muncul di antara Sabaiyah dan sebagian Kaisaniyah, kemudian  Qaramitah, kemudian di antara Batiniyah, kemudian dalam bentuk akhir muncul di antara beberapa pengikut sufi.

3. Ada sumber lain yang diambil, dan yang menyebabkan ada kecenderungan kepada sufi, dimana menurut para pengikut sufiyah bahwa nas-nas Al-Kitab dan Sunnah, itu mempunyai yang zhohir (mempunyai makna tersurat yang jelas) dan yang bathin (pengertian tersirat yang tersembunyi)... kelihatan bahwa sangat jelas mereka mengambil gagasan ini dari Bathiniyah.

Sehingga semua jenis gagasan ini dicampur, dimulai dari sikap berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia sampai membuka pintu bid’ah gagasan bahwa ketuhanan bersemayam dalam makhluk, sampai gagasan bahwa semua makhluk adalah satu hakikat, yang merupakan Alloh (wihdatul wujud). Dari  percampuran semua pemikiran ini lahir aliran sufi, yang muncul dalam Islam. Aliran ini  berkembang pada abad empat dan lima dan mencapai puncaknya setelah itu, yang semakin jauh dari petunjuk Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang murni. Sampai para pengikut aliran sufi menyebut semua yang mengikuti Al-Qur’an dan  Sunnah sebagai  ‘ahli syari'at’ dan ‘ahli tekstual’ (ahlul-dhaahir), sedangkan mereka menyebut  diri mereka  sebagai ‘ahli hakikat’ dan ‘orang yang punya pengetahuan tersembunyi’ (ahlul-batin).
#####

Pada artikel yang telah lalu, kita telah menyebutkan Imam Syafii telah mencela sufiyah (shufiyyah) karena kesesatan mereka. Beliau telah menyebutkan ciri-ciri mereka untuk memperingatkan agar tidak tertipu dengan mereka dan masuk ke dalam bid’ah sufiyah.

Dalam pertemuan ini, kita akan membawakan beberapa landasan pondasi sekte sufiyah secara ringkas, sehingga kita mengetahui dengan sebenarnya hakekat sufiyah.

1.    Sufiyah Membuat Perpecahan Dalam Agama


Aliran Sufiyyah mempunyai banyak tarekat (jalan). Antara lain: Tijaniyyah, Qadariyyah, Naqsyabandiyyah, Syadzaliyyah, Rifa’iyyah dan lainnya yang semuanya mengaku diatas jalan yang benar dan menganggap jalan yang lain adalah batil/salah.
Padahal Islam telah melarang adanya perpecahan (membuat jalan baru), seperti firman Allah:
“...dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum :31-32)

2.    Sufiyyah berdo’a kepada selain Allah yaitu kepada Nabi, para wali yang hidup dan yang telah mati.
Mereka berdoa menyeru: “Yaa Jailani! Yaa Rifa’i! Wahai Rasulullah!” dengan tujuan istighatsah dan memohon pertolongan atau dengan ucapan, “Wahai Rasulullah! Engkaulah tempat bersandar.”

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika engkau berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)

Maka do’a itu adalah ibadah seperti halnya shalat. Kalau shalat tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, maka demikian pula doa tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada Rasul dan para Nabi. Karena hal itu termasuk perbuatan syirik akbar (besar) yang dapat menghapus amal baiknya di dunia, menjadikan pelakunya keluar dari Islam menjadi seorang yang kafir dan pelakunya kekal di neraka.

3.    Aliran Sufi meyakini bahwa di bumi ini ada badal-badal dan kutub-kutub juga wali-wali yang Allah menyerahkan kepada mereka segala urusan dan pemeliharaannya, seperti mencipta, mengatur dan sebagainya

Padahal orang musyrikin di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saja tidak meyakini demikian, sebagaimana yang dikisahkan Allah ketika ditanya siapa pencipta alam ini:
“... dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka orang-orang musyrik itu menjawab: Allah.” (Yunus: 31)

Sedang orang-orang sufi itu meyakini bahwa ada selain Allah yang mengatur alam ini. Mereka ini adalah wali-wali Allah menurut mereka.

4.    Aliran Sufi berharap kepada selain Allah ketika ditimpa musibah
Padahal firman Allah:
“... Dan bila kamu ditimpa kemudharatan (musibah), maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-An’am: 17)

5.    Sebagian aliran Sufi meyakini adanya wihdatul wujud (menyatunya hamba dengan Allah)
Sehingga tidak berbeda antara pencipta dan makhluk dan semua makhluk bisa menjadi sesembahan. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Arabi (tokoh sufi) yang telah dikubur di Damaskus, dia mengatakan:
Hamba ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Wahai siapa yang dibebani (ibadah)?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani?


Ini adalah kesyirikan akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Bagaimana seorang manusia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, yang berikutnya ia mengatakan bahwa ia terbebas dari kewajiban ibadah (karena ia sudah berkedudukan sebagai Tuhan)?

6.    Aliran sufi menyeru untuk zuhud kepada dunia dan meninggalkan asbab-asbab (dalam memperoleh kebutuhan di dunia)
Mereka berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia sampai kepada batasan terjatuh dalam kerahiban.

At-Tusturi (-283 H) mengatakan: “Seorang sufi adalah orang yang memandang darahnya (jiwanya) itu sia-sia tidak bernilai dan miliknya itu boleh dijamah siapapun.”

Abul Husain An-Nuri ( - 295 H) berkata: “Tashawwuf (tasawuf) itu meninggalkan setiap kepentingan jiwa.”

Padahal ini menyelisihi firman Allah:
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kebutuhan) duniawi.” (Al-Qossos: 77)

Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu pernah memberi nasehat:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Dirimu juga mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Keluargamu pun juga mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Maka berikanlah hak kepada setiap yang berhak!”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkan Salman. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. Pengkultusan /pemujaan syaikh-syaikh dan menyerahkan ketundukan kepada mereka, bersikap ghuluw (berlebihan) kepada mereka.
Bahkan aliran Sufi memberikan kedudukan ihsan kepada Syaikh-Syaikh mereka. Mereka meminta kepada pengikut-pengikutnya untuk membayangkan syaikh-syaikh mereka itu ketika berdzikir kepada Allah, bahkan dalam shalat mereka sekalipun. Pernah seorang dari mereka meletakkan gambar syaikhnya di hadapannya dalam shalat, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Al-Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihat-Mu.” (HR. Muslim)

8.    Aliran Sufi mengatakan bahwa beribadah kepada Allah itu jangan takut neraka-Nya atau mengharap surga-Nya.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rabi’ah Al-‘Adawiyyah (salah seorang tokoh sufi wanita, yang pekerjaannya adalah sebagai biduawanita):
“Ya Allah! Jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu maka tenggelamkanlah aku di dalamnya, dan jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku darinya.”

Dan juga pernah pengikut aliran sufi menyanyikan perkataan Abdul Ghani an-Nabilisy:
“Barangsiapa beribadah karena takut neraka Allah, berarti dia penyembah api. Dan barangsiapa yang beribadah karena menginginkan surga berarti dia penyembah berhala.”

Sementara Allah SWT memuji para Nabi yang mereka itu berdo’a untuk mendapatkan surga Allah dan takut dengan neraka-Nya. Allah SWT berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا (90)
“Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Anbiyaa’: 90)
Maksudnya, mereka sangat mengharapkan surga Allah dan takut (cemas) pada siksa (neraka) Allah.

Allah menerangkan kepada Rasul-Nya :
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (15)
“Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab yang besar (hari kiamat) jika kamu mendurhakai Tuhan-ku.” (Al-An’am: 15)

Ibnu Baththah rahimahullah memperingatkan dari Sufiyah yang menggugurkan dua rukun ibadah, yaitu: rasa takut (khouf) dan rasa harap (roja’), karena mereka mengaku merasa cinta (hubb) dan rindu (syauq) kepada Allah. Beliau berkata tentang Sufiyah:
“Mereka ini orang-orang yang punya keinginan yang rendah, dan aturan-aturan agama yang bid’ah (diada-adakan). Mereka menampakkan seolah-olah zuhud. Dan semua penyebab mereka adalah kegelapan. Mereka mengaku rindu dan cinta kepada Allah, dengan menggugurkan khouf (rasa takut) dan roja’ (rasa berharap). Mereka mendengarkan dendangan para pemuda (tampan) dan juga para wanita. Mereka menyanyi, pingsan dan pura-pura pingsan serta pura-pura mati. Semua itu karena akuan mereka sangat rindu dan cinta kepada Allah.” (Talbis Iblis hal. 237)

9.    Aliran Sufi membolehkan menari, bermain musik dan mengeraskan suara ketika berzikir.
Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz ‘Hu’ (Dia) saja. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)
Jadi, tidak dengan ‘Allah’ dan ‘Hu’ saja.

Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan bersamaan (koor/berjama’ah), padahal berdo’a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah:
“Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55)
Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo’a dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (Lihat Tafsir Jalalain Imam Suyuthi).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendengar para shahabat mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka Beliau  shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka :
“Wahai manusia! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa bersamamu.” (HR. Muslim)
Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

10.    Aliran Sufi biasa berdzikir dengan menyebut nama arak (khomer) dan memabukkan
Seperti yang diucapkan oleh seorang penyair Sufi yang bernama Ibnu Farid:
“Kami minum (mabuk) dengan menyebut Yang Tercinta, kami mabuk dengan mudamah sebelum diciptakannya anggur.”
Ada kelompok Sufi bernyanyi di dalam masjid dengan ucapan syair: “Berilah kami Ar-Raah, tuangkan untuk kami semangkok.”

Ar-Raah dan Al-Mudamah dalam syair ini maksudnya adalah khamer.

Mereka aliran sufi tidak punya malu, berdzikir dengan nama khamer di masjid-masjid Allah yang semestinya masjid digunakan untuk menyebut nama Allah saja, bukannya khamer yang haram itu.

11. Mereka membuka pintu bid’ah (mengada-adakan) dalam agama.

12. Mereka juga menutup pintu amar ma’ruf nahi munkar, dengan alasan tidak mau menentang syaikh, meskipun syaikhnya melakukan perbuatan nista. Karena mereka mengaku bahwa syaikh mereka dapat wahyu dari Allah sebagaimana para nabi. Padahal para nabi pun yang mendapat wahyu, mereka adalah orang yang paling taat kepada syariat Allah dan sangat jauh dari perkara maksiat.


13. Pembagian ilmu menjadi Syari’at dan Hakikat, yang mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat, tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini)

14. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib. Allah Ta’ala dustakan mereka dalam firman-Nya:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

15. Keyakinan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dari nuur / cahaya-Nya, dan Allah Ta’ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Padahal Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat’.” (Shaad: 71)

Dan sufiyah jaman dulu itulah yang menanamkan benih penyimpangan dalam tasawwuf mereka. Meskipun hal itu tidak nampak melainkan secara bertahap sesuai berjalannya masa.

Sedang tasawwuf pada masa sekarang adalah penerus dari para pendahulunya. Ini dibuktikan dengan keadaan sufiyah pada masa sekarang.

Saudara-saudaraku, ini sedikit pembahasan tentang sufiyah. Hal ini karena aliran sufi telah berpengaruh besar pada kehidupan muslimin sejak abad ketiga Hijriah sampai hari ini, dan mencapai puncaknya pada abad terakhir. Ia telah besar mempengaruhi keyakinan muslimin dan menyelewengkannya dari jalan yang benar, yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an Al-Karim dan Sunnah yang suci.

Hal ini adalah sisi yang paling berbahaya dari aliran sufi karena pemikiran sufi telah digabung dengan pemujaan terhadap para wali dan para masyayikh dan ghuluw (berlebihan) dalam memuja orang-orang mati. Sebagaimana ada di antara mereka yang berpendapat bahwa segala sesuatu keberadaannya dalam hakikat Alloh (wihdatul-wujud).

Sebagaimana mereka telah menghilangkan semangat jihad, yaitu berperang di jalan Alloh untuk membuat kalimat Allah itu yang mulia, dengan sesuatu yang mereka akui sebagai jihad terbesar, yaitu jihad dalam melawan jiwa mereka sendiri (jihadun-nafs). Mereka mendasarkan pada hadits: "Kita kembali dari jihad kecil kepada jihad yang besar: yaitu berjihad melawan jiwa mereka sendiri." Padahal ini bukan hadits dan tidak ada asalnya. Dan telah hadits palsu ini telah memberikan kesempatan dalam dua abad lalu bagi penjajah untuk menjajah negri-negri Muslim, dan aliran sufi telah menjangkiti setiap rumah di semua wilayah negri-negri Muslimin.
***



Aqidah ahlussunnah dibangun di atas dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dan prinsip yang dipegang oleh para shohabat yang mulia, semoga Allah meridhai mereka semua. Aqidah yang bersih dan sangat jelas, tidak susah dipahami dan rumit.

Beda dengan lainnya yang bersandar kepada logika akal dan menakwil dalil-dalil naql (wahyu). Dimana mereka membangun aqidah keyakinan mereka di atas ilmu kalam. Itupun akhirnya para ahli kalam menjelaskan bahaya yang ada dalam ilmu kalam. Mereka menyesal karena habis waktu mereka dengan ilmu kalam, namun tidak sampai kepada kebenaran. Ujung kesudahan mereka adalah kebingungan dan penyesalan. Di antara mereka ada yang diberi taufik untuk meninggalkan ilmu kalam dan mengikuti jalan salaf. Mereka juga mencela ilmu kalam.

Abu Hamid Al-Ghozali rahimahullah termasuk dari orang-orang yang mapan menguasai ilmu kalam. Namun bersamaan dengan itu dia mencela ilmu kalam, bahkan sangat keras celaannya. Dia menjelaskan bahaya ilmu kalam, dia mengatakan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin hal 91-92:
"أمَّا مضرَّته، فإثارةُ الشبهات وتحريك العقائد، وإزالتها عن الجزم والتصميم، فذلك مِمَّا يحصل في الابتداء، ورجوعُها بالدليل مشكوك فيه، ويختلف فيه الأشخاص، فهذا ضررُه في الاعتقاد الحقِّ، وله ضررٌ آخر في تأكيد اعتقاد المبتدعة للبدعة، وتثبيته في صدورهم، بحيث تنبعث دواعيهم، ويشتدُّ حرصُهم على الإصرار عليه، ولكن هذا الضرر بواسطة التعصُّب الذي يثور من الجدل".
“Adapun bahaya ilmu kalam manthiq, yaitu akan memberikan kerancuan dan menggoyangkan aqidah, dan menghilangkan penetapan aqidah. Itulah diantara bahaya pada permulaannya. Dan kembalinya dengan dalil diragukan. Dalam hal ini orang berbeda-beda. Ini bahayanya dalam keyakinan yang benar. Dan ilmu kalam mantiq punya bahaya yang lain dalam mengokohkan keyakinan ahli bid’ah pada bid’ah dan mengokohkan keyakinan itu dalam dada-dada mereka, dimana faktor-faktor pendorongnya akan bangkit dan bertambah kuat semangat mereka di atas ilmu kalam. Namun bahaya ini dengan perantaraan fanatik yang muncul dari jidal (debat).”

Sampai dia mengatakan:
"وأمَّا منفعتُه، فقد يُظنُّ أنَّ فائدَتَه كشفُ الحقائق ومعرفتُها على ما هي عليه، وهيهات؛ فليس في الكلام وفاء بهذا المطلب الشريف، ولعلَّ التخبيط والتضليل فيه أكثر من الكشف والتعريف، وهذا إذا سمعته من محدِّث أو حشوي ربَّما خطر ببالك أنَّ الناسَ أعداءُ ما جهلوا، فاسمع هذا مِمَّن خَبَر الكلامَ ثم قلاه بعد حقيقة الخبرة وبعد التغلغل فيه إلى منتهى درجة المتكلِّمين، وجاوز ذلك إلى التعمُّق في علوم أخر تناسبُ نوع الكلام، وتحقق أنَّ الطريقَ إلى حقائق المعرفة من هذا الوجه مسدود، ولعمري لا ينفكُّ الكلام عن كشف وتعريف وإيضاح لبعض الأمور، ولكن على الندور في أمور جليَّة تكاد تفهم قبل التعمُّق في صنعة الكلام".
“Adapun manfaat ilmu kalam, disangka bahwa faedahnya adalah menyingkap dan mengetahui hakekat sebenar-benarnya. Jauh, jauh sekali persangkaan itu. Dalam ilmu kalam tidak ada yang memenuhi tujuan yang mulia ini. Bahkan pengacauan dan penyesatan dalam ilmu kalam itu lebih banyak daripada penyingkapan dan pengenalan hakekat. Ini jika engkau mendengarnya dari seorang muhaddits atau hasyawi. Kadang terbetik di benakmu bahwa manusia adalah musuh selama mereka tidak mengetahui. Dengarkan ini dari orang yang telah mendalami ilmu kalam, kemudian membencinya setelah mengetahui dengan sebenarnya dan sampai dengan susah payah kepada puncak derajat ahli kalam, lalu melewati hal itu menuju ilmu-ilmu yang lain yang sesuai dengan jenis ilmu kalam, kemudian yakin bahwa jalan menuju hakekat ma’rifat (pengenalan) dari sisi ini tertutup. Sungguh, ilmu kalam itu tidak memberi manfaat kepadamu untuk menyingkap, mengenalkan dan memperjelas sebagian perkara. Namun kadang-kadang dalam perkara yang jelas, hampir engkau paham sebelum engkau mendalami ilmu kalam.”

Ibnu Rusyd Al-Hafid -beliau juga termasuk orang yang paling tahu dengan madzhab dan pendapat ahli filsafat, di kitabnya Tahafut At-Tahafut berkata:
(ومَن الذي قال في الإلَهيات شيئاً يعتدُّ به؟)،
“Siapakah orangnya yang berkata sesuatu tentang ilahiyah, kemudian dianggap pendapatnya?”

Demikian juga Al-Amidi -orang termulia di masanya- dia diam berhenti bingung dalam permasalahan yang besar.

Demikian juga Abu ‘Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Rozi berkata dalam kitabnya tentang macam-macam dzat:
نِهايةُ إقدام العقول عِقالُ ... وغايةُ سعي العالمين ضلالُ
وأرواحنا في وحشة من جسومنا ... وحاصلُ دنيانا أذَى ووبالُ
ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا ... سوى أن جمعنا فيه: قيل وقالوا
فكم قد رأينا من رجال ودولةٍ ... فبادوا جميعاً مسرعين وزالوا
وكم من جبال قد عَلَت شُرُفاتِها ... رجالٌ فزالوا والجبالُ جبالُ
لقد تأمَّلتُ تلك الطرق الكلامية والمناهج الفلسفية، فما رأيتُها تشفي عليلاً، ولا تُروي غليلاً، ورأيتُ أقربَ الطرق طريق القرآن، اقرأ في الإثبات {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}، {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ}، واقرأ في النفي {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ}، {وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْماً}، ثم قال: "ومَن جرَّب مثلَ تجربَتِي، عرف مثل معرفتِي".
Akhir dari mendahuluan akal adalah belenggu
        Dan puncak usaha orang-orang yang tahu adalah kesesatan
Ruh-ruh kita liar dalam jasad-jasad kita
        Dan hasil dunia kita adalah kesusahan dan bencana
Kita tak memperoleh dari pembahasan kita sepanjang umur kita
        Selain kita mengumpulkan: katanya dan katanya
Betapa banyak kita melihat para tokoh dan negara
        Kemudian mereka semua binasa dan musnah
Betapa banyak gunung (ilmu kalam) yang telah didaki puncaknya
        Oleh orang-orang, kemudian mereka binasa, sedang gunung itu tetap gunung


Aku telah memperhatikan berbagai metode ilmu kalam dan manhaj-manhaj ahli filsafat, namun aku memandang ia tidak bisa menyebuhkan dan memuaskan. Aku memandang jalan yang paling dekat adalah metode Al-Qur’an. Dan bacalah dalam penetapan sifat mulia untuk Allah: “Allah Yang Maha Penyayang istiwa di atas ‘Arsy”, “Dan kepada-Nya lah naik ucapan-ucapan yang baik”. Dan bacalah dalam peniadaan: “Tiada sesuatupun yang semisal dengan-Nya”, “Dan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” ... Barangsiapa yang mengalami seperti aku, dia akan tahu seperti aku.” (Lihat Tobaqot Asy-Syafiiyah 8/96 karya As-Subki)

Demikian Asy-Syaikh Abu Abdillah bin Abdil Karim Asy-Syihristani, dia tidak mendapati di sisi ahli filsafat dan ahli kalam selain kebingungan dan penyesalan. Dia berkata:
لعمري لقد طُفت المعاهد كلها ... وسَيَّرتُ طرفي بين تلك المعالم
فلم أر إلاَّ واضعاً كفَّ حائر ... على ذقن أو قارعاً سنَّ نادم
Demi umurku, sungguh aku telah mendatangi ma’had-ma’had semua
             dan aku jalankan kedua mataku antara petunjuk-petunjuk itu
Namun aku tak melihat kecuali dengan meletakkan tangan orang yang bingung
             Di dagu, atau menggertakkan gigi orang yang menyesal.”

Demikian juga Abul Ma’ali Al-Juwaini rahimahullah dia berkata:
يَا أَصْحَابَنَا لَا تَشْتَغِلُوا بِالْكَلَامِ فَلَوْ عَرَفْت أَنَّ الْكَلَامَ يَبْلُغُ بِي إلَى مَا بَلَغَ مَا اشْتَغَلْت بِهِ.
“Wahai para shababat kami, janganlah kalian sibuk dengan ilmu kalam. Kalau aku dulu tahu bahwa ilmu kalam itu akan menyampaikan kepada batas yang telah aku sampai sekarang, tentu aku tidak akan menyibukkan dengannya.”

Beliau juga berkata ketika mau meninggalnya:
"لقد خضتُ البحرَ الخِضَمَّ، وخلَّيتُ أهل الإسلام وعلومَهم، ودخلتُ في الذي نَهونِي عنه، والآن فإن لم يتداركنِي ربِّي برحمته، فالويل لابن الجوينِي، وها أنا ذا أموت على عقيدة أمِّي، أو قال: على عقيدة عجائز نيسابور"،
“Aku telah menyelami lautan besar (ilmu kalam). Aku juga meninggalkan kaum muslimin dan ilmu-ilmu mereka. Aku masuk dalam perkara yang mereka larang. Dan sekarang ... jika Rabbku tidak memberikan rohmat-Nya kepadaku, maka celakalah Ibnul Juwaini... Inilah aku yang meninggal di atas keyakinan (aqidah) ibuku, atau dia berkata: di atas aqidah orang tua-orang tua Naisabur.”

Demikian juga banyak lagi para tokoh ahli kalam yang bingung dan menyesal dengan ilmu kalam. Seperti Syamsuddin Al-Khosrusyahi –salah satu murid Fakhrur Rozi, Al-Khounji, dan lainnya.

Engkau dapati sebagian mereka ketika meninggalnya kembali kepada aqidah orang-orang tua biasa, dan menetapkan apa yang mereka tetapkan. Di antara ahli kalam tadi ada yang bingung dan goncang dalam masalah sifat Allah, kemudian kembali ke madzhab salaf.

Seperti Abu Hamid Al-Ghozali yang mempunyai i’tiqod menurut jalan para ahli kalam (mutakallimin). Sebagian ulama telah menukilkan perkataannya yang menunjukkan bahwa dia rujuk. Ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Abi Al-Izzi Al-Hanafi pensyarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah ketika membicarakan sekumpulan para ahli kalam dan kebingungan mereka:
"وكذلك الغزالي رحمه الله انتهى آخرُ أمرِه إلى الوقف والحيرة في المسائل الكلاميَّة، ثمَّ أعرَضَ عن تلك الطُّرُق، وأقبَل على أحاديث الرَّسول صلى الله عليه وسلم ، فمات و(البخاري) على صدره".
“Demikian juga Al-Ghozali rahimahullah, akhir hidupnya berakhir pada sikap diam dan kebingungan dari permasalahan-permasalahan ilmu kalam. Kemudian dia berpaling dari jalan-jalan ilmu kalam itu dan menghadap kepada hadits-hasits Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian meninggal dalam keadaan Shahih Al-Bukhari ada di dadanya.”

Dan di dalam kitabnya Iljam Al-‘Awam ‘An ‘Ilm Al-Kalam, Al-Ghozali memperingatkan agar tidak sibuk dengan ilmu kalam dan mendorong untuk sibuk dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan jalan yang ditempuh para salaf sholeh. (Ar-Rodd ‘Ala Ar-Rifai hal 99)

Di dalam Lisan Al-Mizan (4/427) dibawakan biografi Ar-Rozi –dia termasuk tokoh ahli kalam-:
"وكان مع تبحُّره في الأصول يقول: من التزم دينَ العجائز فهو الفائز
“Dia bersamaan dengan luasnya cakrawala /wawasan pengetahuan dia dalam ilmu ushul, dia mengatakan: ‘Barangsiapa yang memegang teguh agamanya orang-orang tua, maka dia beruntung.”

Ja’far bin Burqon, dia berkata: seseorang datang kepada Umar bin Abdil Aziz, kemudian menanyainya tentang sesuatu dari pemikiran bid’ah, maka dia menjawab:
الزَم دينَ الصبِيِّ في الكُتَّاب والأعرابيِّ، والْهُ عمَّا سوى ذلك
“Pegangilah agama anak-anak kecil dalam madrasah dan orang-orang pedusunan. Dan abaikan yang selain itu.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot 5/374 dengan sanad shohih menurut imam Muslim, sebagaimana dikatakan Imam An-Nawawi dalam Tahdzib Al-Asma wal Lughot 2/22)

Bagaimana sekarang dengan para mahasiswa IAIN - UIN – STAIN dan lainnya, yang mereka sibuk dengan ilmu kalam mengikuti pemahaman mu’tazilah (rasionalis) yang asal pemikiran mereka berasal dari filsafat Al-Yunan. Mereka nantinya juga akan bingung, atau na’udzu billah ada yang ragu tidak meyakini aqidah (keyakinan) kaum muslimin. Hendaknya mereka sadar bahwa ilmu kalam tidak akan memberi manfaat sedikitpun, bahkan akan membawa dirinya kepada kebinasaan. Wallahu a’lam.

(Sumber Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ar-Rodd ‘Ala Ar-Rifai hal 99, dan Qothf Al-Jani hal 25-26, 30-31)
***

Minggu, 11 Oktober 2009


Telah lewat kepada kita artikel tentang hukuman Imam Asy-Syafii terhadap ahli kalam. Dan juga pernyataan beliau dan Imam An-Nawawi yang mengharamkan ilmu kalam. Demikian ini diantara hikmahnya karena ilmu kalam akan membawa seseorang kepada kebinasaan. Agamanya akan hancur dengan ilmu kalam. Dan na’udzu billah dia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan ragu dengan agama Islam.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ،  ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Celakalah orang-orang yang berdalam-dalam.” (tiga kali)

Imam Al-Khoththobi -salah seorang ulama madzhab syafii- menerangkan hadits ini:
المتنطع المتعمق في الشيء المتكلف للبحث عنه على مذاهب أهل الكلام الداخلين فيما لا يعنيهم الخائضين فيما لا تبلغه عقولهم
Al-Mutanaththu’ adalah orang yang berdalam-dalam dalam sesuatu, membebani diri untuk membahasnya menurut madzhab ahli kalam yang masuk kepada perkara yang tidak penting bagi mereka, membicarakan perkara yang tidak dicapai akal mereka.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud)

Asalnya tanaththu’ adalah berdalam-dalam dalam pembicaraan untuk menampakkan kefasihan. Ini asal makna tanaththu’ secara etimologi. Dan tanaththu’ itu ada beberapa macam: dalam pembicaraan, dalam istidlal, dan dalam ibadah.

Yang berkaitan dengan uraian di sini bahwa salah satunya adalah tanaththu’ (berdalam-dalam) dalam masalah istidlal. Inilah jalan ahli kalam dan ahli manthiq yang menyimpang dari beristidlal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi malah beristidlal dengan kaedah-kaedah ilmu manthiq dan istilah-istilah ahli kalam.

Ilmu mathiq (mantiq) itu berasal darimana? Kaedah-kaedah ilmu manthiq itu berasal dari mana? Datang dari Al-Yunan. Mereka para ahli manthiq mengambilnya dan menerapkannya dalam islam. Mereka tidak mau beristidlal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengatakan: “Sesungguhnya dalil-dalil naqli (sam’iyyah/wahyu) tidak memberi faedah keyakinan. Yang memberi faedah keyakinan adalah dalil-dalil aqli” -menurut mereka-. Sehingga mereka binasa dengan hal itu, sebagaimana dinyatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Yang wajib istidlal itu dengan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma para ulama muslimin, dan qiyas yang shahih, sebagaimana metode ahlussunnah wal jamaah.

Oleh karena itu Imam Asy-Syafii sangat keras terhadap ahli kalam sebagaimana yang telah lalu. Sampai beliau mengatakan:
حُكْمِي فِي أَهْلِ الْكَلَامِ أَنْ يُضْرَبُوا بِالْجَرِيدِ وَيُحْمَلُوا عَلَى الْإِبِلِ وَيُطَافَ بِهِمْ فِي الْقَبَائِل وَالْعَشَائِر ، وَيُنَادَى عَلَيْهِمْ هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّة وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلَامِ
“Hukumku pada ahlil kalam, mereka dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan ke unta, kemudian diarak berkeliling di kabilah-kabilah dan suku-suku, kemudian diserukan tentang mereka ‘Ini balasan orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menghadap diri kepada Ilmu Kalam’.”
(Manaqib Asy-Syafii karya Al-Baihaqi 1/462, cet, Dar At-Turots).

Di antara ahli kalam ada yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menggantinya dengan kaedah-kaedah ilmu manthiq, sampaipun dalam masalah aqidah, yang sekarang disebut ilmu tauhid, tetapi mereka menyebutnya dengan ilmu manthiq dan ilmu kalm. Oleh karena itu mereka terjatuh pada kebinasaan. Mereka sudah sesat, menyesatkan lagi. Mereka sendiri berakhir pada kebingungan, sebagaimana disaksikan oleh para pembesar mereka. Sebagian mereka ketika meninggal, meminta kesaksian para hadirin bahwa dia meninggal dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, padahal dia telah menghabiskan umurnya dalam ilmu kalam, jidal dan ilmu manthiq.

Inilah tempat kembalinya orang-orang yang berdalam-dalam. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian. Persaksian diri mereka sendiri ada. Dan itu menunjukkan kebenaran sabda Nabi di atas.

(Sumber: Aunul Ma’bud, I’anatul Mustafid (1/279-280) dan lainnya)
***

Hak Cipta @ 2009

Boleh menyalin dari blog: FatwaSyafii.wordpress.com atau FatwaSyafiiyah.blogspot.com untuk kepentingan dakwah Islam dengan mencantumkan url sumber untuk setiap artikel.

Posting Pilihan